Ternyata lebih dari sekadar urusan seks, lho!

Durasi baca: 1 menit.


Ketika berbicara soal Kerajaan, maka kehidupan para kaum bangsawan di dalamnya akan sangat menarik untuk dibahas. Tidak hanya soal takhta dan wewenang, kehidupan asmara para anggota kerajaan juga selalu menarik untuk dibicarakan.


Salah satunya adalah kebiasaan Raja yang gemar berpoligami alias memiliki istri lebih dari satu. Di Indonesia, istri raja yang tidak resmi atau bukan istri yang pertama, disebut dengan istilah selir. Jumlah selir sendiri terkadang fantastis.


Raja Pakubuwono X misalnya, menjadi raja yang memiliki selir terbanyak dalam sejarah Indonesia. Yakni mencapai 40 orang! Karena itu, Raja Pakubuwono X memiliki anak hingga 60 orang. Luar biasa bukan?


Bayangkan jika hal semacam ini terjadi di zaman modern. Kira-kira sebesar apa hujatan yang akan dilayangkan oleh masyarakat kepada orang yang memiliki istri hingga 40 orang. Bicara soal raja dan para selir, pasti membuat Anda bertanya-tanya.


Kira-kira, apa alasan di balik keputusan raja untuk memiliki banyak istri? Apakah murni untuk melampiaskan hasrat seksual yang dimiliki oleh sang raja? Jawabannya adalah tidak. Memang betul, bahwa para selir bertugas untuk melayani keinginan raja secara biologis.


Tapi ternyata, memiliki banyak istri juga menjadi simbol politik alias kekuasaan. Semakin banyak istri atau selir yang ia miliki, maka kekuatan yang ia punya sebagai raja juga akan semakin besar.

(BACA JUGA: Setelah Dipertanyakan, Mantan Koki Kerajaan Ungkap Makanan Favorit Ratu Elizabeth II) 



(Foto: ladybeatrix.com)

SIMBOL KEKUATAN DAN KEKAYAAN

Anda pasti familiar dengan istilah: Harta, Takhta, Wanita. Ungkapan inilah yang menjadi pedoman para raja di zaman dulu. Bagi para raja, harta dan takhta yang mereka miliki merupakan senjata untuk menggaet banyak perempuan.


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, semakin banyak perempuan yang mau menjadi selir maka semakin besar juga kekuatan para raja akan takhta dan harta yang mereka miliki. Selain itu, memiliki banyak istri membuat para raja memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh keturunan laki-laki.


Dalam silsilah kerajaan, keturunan laki-laki merupakan hal yang paling berharga, karena bisa menjadi penerus jika kelak sang raja memutuskan untuk turun takhta atau meninggal dunia.


WILAYAH KEKUASAAN

Selain menjadi simbol kekuatan dan kekayaan, selir juga berfungsi untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaan tertentu. Kita ambil contoh misalnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan adalah Raja di Jakarta Pusat.


Ia kemudian menikahi gadis-gadis yang ada di wilayah Jakarta Selatan, Barat, Timur, dan Utara, supaya wilayah-wilayah tersebut juga menjadi daerah kekuasaannya. Karena di masa depan, ketika para selir melahirkan anak laki-laki maka anak tersebut pasti akan ditunjuk untuk memimpin wilayah asal ibunya.


Misalnya ia berasal dari selir di wilayah Jakarta Selatan. Maka secara otomatis, anak tersebut akan memimpin wilayah Jakarta Selatan dengan menjadi Walikota. Jika setiap daerah dipimpin oleh keturunan sang raja, maka secara otomatis roda politik dan perekonomian di wilayah tersebut, berada di bawah kontrol dan pengaruh sang raja.


TRANSAKSI YANG MENGUNTUNGKAN

Memberikan anak perempuan kepada raja untuk dijadikan selir, merupakan proses transaksi yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Pihak kerajaan dan keluarga si perempuan.


Pada zaman dahulu, di mana kita berada dalam kelas masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Semakin tinggi kelas masyarakat, maka semakin dihormati juga keberadaannya. Namun sayangnya, kesempatan untuk menjadi kaum bangsawan atau pejabat adalah takdir.


Karena itulah, orang-orang dari kelas masyarakat biasa, berusaha memberikan anak perempuannya untuk menjadi selir raja. Supaya, kehidupan mereka juga ikut terangkat. Jika kehidupan mereka terangkat, maka tidak hanya status di dalam masyarakat yang naik kelas, tetapi juga perekonomiannya.


Belum lagi jika anak mereka bisa melahirkan bayi laki-laki. Bisa dipastikan bahwa kedudukan mereka di masyarakat akan semakin dihormati. Begitu juga dengan faktor ekonominya yang akan terus membaik.


Meski begitu, untuk menjadi selir raja tidaklah mudah. Ada banyak sekali syarat yang harus dipenuhi. Termasuk apakah raja tertarik pada perempuan tersebut atau tidak. Itulah mengapa, para perempuan zaman dulu tidak pernah dituntut untuk bisa baca-tulis hingga menjahit.


Melansir dari buku berjudul ‘Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVII-VIX’ yang ditulis oleh J.W. Winter, terungkap kalau anak perempuan hanya dituntut untuk melatih kecantikan diri mereka.


Mulai dari bersikap sopan, bertingkah laku pantas, berdandan atau mempercantik diri, belajar bagaimana bersikap malu-malu (termasuk menghindar dari bicara saat bergaul), sampai tampil seksi, di mana ketika berpakaian payudara mereka hampir terlihat telanjang bulat.


Hal ini penting untuk dilakukan supaya mereka memiliki daya tarik secara seksual, sehingga raja akan lebih memerhatikan mereka dibandingkan dengan selir lainnya.



(Foto: cathstan.org)


(Andiasti Ajani, foto: psychologytoday.com)