Gangguan psikologis ini, sering disalahartikan sebagai cinta sejati. What?

Durasi baca: 1 menit.


Selalu saja seru untuk membicarakan soal cinta. Sebuah perasaan yang didefinisikan secara berbeda oleh setiap orang ini seringkali dituding menjadi ‘pembunuh logika’ bagi siapapun yang merasakannya.


Akibatnya, kita menjadi buta dan tak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada pasangan. Benarkah ia mencintai atau justru tengah berjuang melawan gangguan psikologis? Nyatanya, terdapat setidaknya empat gangguan psikologis yang sering disalahartikan sebagai cinta sejati.


EROTOMANIA

Siapa sih, yang tidak suka merasa dicintai? Perasaan ini memang tidak terjadi setiap saat, khususnya saat seseorang sudah mulai bosan dengan pasangannya atau justru sedang jomblo. Lucunya, hal ini tidak dirasakan oleh orang yang memiliki gangguan erotomania.


Gangguan yang sering disebut dengan “de Clerambaults’s syndrome” ini membuat penderitanya selalu merasa ada seseorang di luar sana yang sangat tergila-gila dengannya.


Untuk membuat kisahnya menjadi lebih menarik, penderita menjadikan sosok terkenal—selebriti atau pria/wanita yang populer di lingkungannya—sebagai orang yang mencintai dirinya. Ia merasa tatapan dari lawan jenis—bahkan komunikasi batin—menjadi sinyal cinta kepada dirinya. 


Jika Anda merupakan objek yang dicintai oleh penderita erotomania, percuma Anda menolak. Pasalnya, ia hanya akan menganggap Anda mencoba menyembunyikan perasaan cinta untuknya. Dalam kasus nyata, Madonna pernah menjadi sosok yang dianggap cinta sejati oleh seorang pria.


Menurutnya, Madonna terlahir untuk menjadi istrinya. Kondisi ini terus terjadi hingga kurun waktu 10 tahun lamanya.


OBSESSIVE LOVE

Memiliki gairah menggebu pada pasangan memang normal di awal hubungan. Anda dan pasangan biasanya berusaha untuk mengiyakan keinginan satu sama lain, ingin selalu bertemu, dan sebagainya.


Seiring berjalannya waktu, rasa percaya dan komitmen menjadi lebih penting ketimbang kemesraan berlebihan. Selain itu, Anda dan pasangan biasanya lebih menghargai privasi satu sama lain.  Hal inilah yang tak terjadi pada orang yang mengalami Obsessive Love.


Ia selalu ingin bersama pasangannya. Bahkan, tak sedikit yang menuntut pasangan untuk meninggalkan semua lingkungannya hanya untuk si penderita. Ia tidak suka dengan adanya penolakan. Jika ditolak, ia seringkali mengancam akan melukai diri atau bahkan bunuh diri.


Dalam beberapa kasus, si penderita akan menguntit pasangannya, memanipulasi keadaan (pura-pura sakit agar pasangannya menemuinya), hingga mengekang dan membuat pasangannya bergantung padanya (menguasai keuangan atau akses tertentu). 



(Foto: boldsky.com)