Temukan faktanya dalam artikel berikut ini! 


Tahun lalu, GLITZMEDIA berkesempatan untuk melakukan siaran Instagram Live bersama dengan Lex dePraxis seorang Relationship Coach sekaligus pendiri dari kelascinta.com. Topik pembahasan di hari itu, adalah soal: Solusi #TetapWaras dan Tambah Mesra Bersama Pasangan Selama #dirumahaja.


Hmmm, siapa di antara kamu yang mengakui bahwa selama pandemi corona ini, tingkat konflik yang terjadi di dalam hubungan kamu dan pasangan justru meningkat? Bahkan, mereka yang belum menikahpun, rentan terhadap kandasnya hubungan yang ia jalankan dengan pasangannya.


Melansir dari theguardian.com, selama pandemi corona ini bahkan ada sebuah istilah baru soal hubungan muncul. Yakni zumping. Zumping adalah fenomena putus cinta yang terjadi via aplikasi Zoom.


Bayangkan, bahwa ternyata pandemi corona ini tidak hanya mengganggu keuangan serta emosi dalam diri, tetapi juga hubungan yang kamu bina.


Terkait dengan hal tersebut, Coach Lex menjelaskan bahwa sebetulnya, konflik meningkat selama karantina karena pandemi adalah hal yang wajar. Mengingat, intensitas pertemuan di dalam rumah yang mungkin dulu hanya beberapa jam sekarang menjadi 24 x 7.


“Contoh nih, saya kalau makan berantakan sedangkan pasangan saya kalau makan bersih. Kalau hari-hari biasa kan mungkin pasangan saya menganggap itu sebagai angin lalu karena ia akan keluar rumah untuk bekerja atau aktivitas lainnya. Sedangkan kalau sekarang kan tidak. Setiap hari ia akan melihat saya makan berantakan. Sehingga perasaan kesal itu menumpuk dan bisa meledak tanpa disadari,” tuturnya.

(BACA JUGA: Rekomendasi Sex Toys untuk Kamu yang Ingin Mencoba Hal Baru) 




Coach Lex juga memberikan beberapa tips penyelesaian masalah yang bisa dilakukan untuk setiap pasangan, jika tiba-tiba hubungannya renggang selama di rumah saja. Beberapa tips yang diberikan oleh Coach Lex, mengundang sebuah pertanyaan:


“Apakah menyelesaikan konflik lewat hubungan seksual adalah tepat? Lantaran banyak sekali istilah dalam hubungan bahwa masalah apapun pasti akan selesai dengan seks.”


“Setuju jika konteksnya adalah meredakan emosi. Karena tidak bisa dipungkiri, bahwa hubungan seksual itu enak. Apalagi kalau saat berhubungan seks, kedua belah pihak sama-sama orgasme. Itu pasti akan rileks sekali. Tapi, konfliknya atau perbedaan yang kemudian menciptakan konflik di antara kamu dengan pasangan, tetap ada di sana,” ujar Coach Lex.


“Contoh kaya yang tadi sudah saya sebutkan, saya itu kalau makan berantakan. Sedangkan pasangan saya bersih. Masalah ini kan tidak luput hanya karena hubungan seksual. Sebelum, saat, atau setelah berhubungan seks saya tetap orang yang jorok dan pasangan saya tetap orang yang bersih.”


“Jadi, apakah hubungan seks bisa menyelesaikan konflik jawabannya adalah tidak. Tetapi, lewat hubungan seksual kamu bisa meredakan emosi saat konflik. Sehingga mungkin, bila setelah melakukan hubungan seks kamu dan pasangan ingin membahas masalah yang ada, bisa dilakukan dengan kepala dingin.”


(Andiasti Ajani, foto: pexels.com/w r, freepik.com/jcomp)