Memiliki momongan sudah lama Anda dan suami dambakan. Berbagai impian dan rencana pun sudah Anda pikirkan untuk nantinya diterapkan pada anak. Sayangnya, Anda masih saja berkeluh kesah, karena tindakan mertua yang kerap 'menginterupsi' apapun yang Anda lakukan saat mengasuh dan mendidik anak.

Sepertinya, ada saja yang salah dan perlu dikoreksi. Belum lagi pertanyaannya yang mengesankan Anda tak tahu apa-apa, dan...satu lagi, saran dari beliau terkadang bertolak belakang dengan rencana Anda. Duh, rasanya sebal. 

Ketahuilah kalau mertua juga punya alasan untuk ikut campur pada pertumbuhan anak Anda yang notabennya itu cucunya sendiri. BACA INI: INI ALASANNYA KENAPA CARA ANDA MENGASUH ANAK BERTOLAK BELAKANG DENGAN MERTUA.

Tak perlu emosi berkepanjangan. Lakukan saja langkah-langkah ini agar Anda bisa mengasuh anak dengan nyaman, tanpa beban, tanpa menyakiti hati mertua...


  • Anggaplah mertua sebagai orang tua Anda sendiri. Ini adalah cara paling mudah yang perlu Anda lakukan pertama kali.  Dengan begitu, apapun yang mereka katakan dan lakukan, akan lebih mudah dipahami oleh Anda. 
  • Kenapa Anda tidak mencoba menggali ilmu dari mertua? Coba dengarkan cerita dan sarannya ketika membagi pengalamannya, cara dia mengasuh anak-anaknya dulu. Perlu diingat, orang tua zaman dulu (umumnya) lebih tahan banting, mandiri, dan selalu punya cara mencari solusi sendiri sebelum bergantung pada orang lain.
  • Coba aplikasikan pola asuh yang mereka sarankan untuk tahu efek baik dan buruknya, sebelum Anda benar-benar menolaknya. Jika ternyata masuk akal dan sesuai dengan pemikiran Anda dan suami, pasti impact-nya akan terlihat pada anak Anda. Hidup anak akan terasa lebih teratur, nyaman, dan aman. 

  • Saat menerapkan sarannya, ajaklah mertua ikut ikut mempraktekkan hal tersebut kepada anak Anda. Dengan begitu, mertua maupun sama-sama melihat dan mengerti apakah ajaran tersebut memang sesuai dengan jiwa si anak. Anda dan mertua pun bisa saling koreksi, tanpa terkesan menyalahkan.
  • Anda harus mampu menunjukkan sikap tegas dan positif kepada mertua. Biasanya ini terlihat dari sikap dan tingkah laku anak Anda. Ketika berbuat hal-hal yang tidak baik, tentu mata dan pikiran mertua tertuju pada Anda sebagai orang tuanya. Sebaliknya, saat anak tumbuh dengan baik, mertua pasti mengacungi jempolnya—meskipun di dalam hatinya saja.
  • Berikan kesempatan mertua untuk berbicara tentang mitos-mitos yang berkembang di masa lalu. Lagi-lagi, mereka, kan, lebih pengalaman daripada Anda. Setelah mendengarkan, pilah-pilah saran mertua yang menurut Anda masih relevan dilakukan di masa modern seperti sekarang. Berikan pengertian kalau Anda merasa hal tersebut tak lagi perlu dilakukan di masa sekarang.
  • Bertukar pikiran lah dengan suami Anda. Diskusikan pola asuh seperti apa yang ingin Anda terapkan kepada anak. Ketika keputusan dibuat, tak ada salahnya duduk bareng bersama mertua untuk menjelaskan pola asuh yang sudah Anda dan suami tentukan. Dengan begitu mereka akan lebih menghargai keputusan Anda dan suami. Lakukan pula hal ini kepada orang tua Anda sendiri. 
  • Menolak dengan baik dengan memberikan alasan yang tepat menjadi solusi untuk menunjukkan ketidaksetujuan Anda akan campur tangan mertua, tanpa terkesan buruk. Berbicaralah dari hati ke hati dan jelaskan niat Anda. Minta waktu kepada mertua untuk membuktikan, bahwa suara Anda sebagai orang tua juga perlu didengar. 


(Saskia Damanik)