Stay in The know

Glitz Journal

Lulu Lutfi Labibi si Seniman Merdeka

Lulu Lutfi Labibi si Seniman Merdeka

Saat kesederhanaan sebenarnya menjadi jawaban untuk siapapun.

Durasi baca: 7 menit 15 detik


Tidak banyak yang menyadari bahwa karya Lulu Lutfi Labibi adalah kisah hidup yang menyiratkan rasa rindu akan kesederhanaan. Glamor Ibu Kota bukan untuknya. Mungkin sebenarnya bukan untuk banyak orang, tapi masih ada yang berkutat untuk mengais rejeki di tengah ingar bingar kemacetan dan gedung-gedung tinggi. Buat lelaki 35 tahun ini, Yogyakarta memang bukan tempat ia lahir, namun rasa senyap dan ketenangannya menawarkan cukup ruang untuk memperkaya batin.


Nilai karya Lulu tidak sebatas selembar pakaian favorit para artis atau desainer hits yang sudah sampai ke mancanegara. Lebih dalam dari itu, karya Lulu memiliki ‘jiwa’ dan energi yang membawa cerita masa lalunya menjadi bahan bakar di masa depan. Ia melesat karena pernah sakit hati. Ia berkelana dan dipercaya berbagai kalangan karena kisahnya klasik dan tak lekang oleh waktu, yaitu mencari ketenangan batin. Tanpa ia sadari, lurik membuatnya menjadi lebih merendah dan tahu diri.


Aku bukan pahlawan yang menaikkan derajat lurik, tapi aku mencoba redefinisi kain tradisional yang dipakai oleh orang dengan taraf ekonomi rendah di zaman dulu. Hal tersebut yang menyebabkan aku jatuh cinta pada lurik karena sifatnya yang sederhana. Aku kan, orangnya merdeka. Kalau pada batik ada motif yang diperuntukkan bagi  pejabat, para sultan hingga untuk rakyat jelata—meskipun memang di Jawa begitu, ada kategori dan pengotakan. Tapi tidak apa-apa karena itu budaya dan sudah mengakar dari dulu,” terang anak kelima dari enam bersaudara ini.


Lulu merasa lurik adalah kebebasan. Tidak ada sifat intimidasi dari kain tersebut. “Lurik itu kainnya kasar, karena dulu orang yang bikin tenun lurik memang menggunakan benang kualitas rendah, namanya juga untuk rakyat jelata. Aku malah mikir, ‘keren banget ya’. Ada sih, lurik hijau dan beberapa yang masuk ke ranah Kraton, tapi aku merasa lurik seperti ngomong, ‘Apa sih?’. Ia tidak peduli pada pengotak-ngotakan atau pada status sosial, ia bebas,” jelasnya. 



Inilah Lulu. Tempatnya bukan di ranah glamor dan riuh metropolitan. Saat Lulu mengikuti ajang Lomba Perancang Mode (LPM) di akhir tahun 2011 untuk Jakarta Fashion Week (JFW) 2012, tidak jauh dari waktu tersebut Lulu telah mengikuti berbagai lomba perancang busana di Jakarta dan kerap memenangkan posisi pertama. Sehingga, saat menyentuh panggung JFW untuk karyanya yang bertajuk “Local Glory”, ia sudah memiliki rasa percaya diri—setidaknya berada di posisi 3 besar. 


Aku ingat banget jauh sebelum ikut LPM, aku sempat dipanggil sama pak Musa Widyatmodjo. Bayangin saja, aku anak daerah, naik kereta ekonomi ke Jakarta karena dipanggil desainer senior. Beliau bilang begini, ‘Lulu, kamu itu ikut lomba ke sana ke mari tapi kalau tidak bisa jualan, sama saja. Kamu mau cari terkenalnya saja?’ katanya. Aku sampai merasa ‘jleb’. Aku menjelaskan bahwa ikut lomba untuk biaya hidupku. Bayar kos, makan, ya, yang realistis. Tapi pertanyaan beliau justru membuat aku berpikir panjang. Lalu aku pulang naik kereta ke Jogja dengan pertanyaan, ‘Tuhan, tolong, aku capek banget. Aku harus berbuat apa?” kenang pria kelahiran Banyumas, 30 April tersebut.


Di sini LPM turut berperan. Lulu baru menyadari bahwa di setiap bagian Jakarta memiliki selera mode masing-masing dan mayoritas konsumen Lulu terdapat di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Lolos menjadi juara pertama LPM, membuat Lulu semakin optimis. “Aku tahu jawabannya sekarang,” tegas Lulu saat ia kembali bertemu dengan Musa di tahun 2017. Waktu itu ia merasa desainnya belum bisa diterima pasar umum, sehingga, “Aku menciptakan market, pak,” tukasnya sambil tertawa dan menjelaskan bagaimana cara ia menyampaikan kepada Musa.


Lulu menggunakan referensi dari Yohji Yamamoto, Rei Kawakubo, Dries Van Noten, yang ia anggap sebagai ‘orang sedeng’ dalam berkarya. Ia merasa energi tersebut turut mengalir di sendi-sendinya. “Pada akhirnya sesuatu yang aku angkat adalah sesuatu yang personal dan apa yang lagi aku rasakan saat itu. Makanya apapun yang aku buat pasti terasa emosional. Hal tersebut termasuk dalam menghadapi politik di industri ini. Apa yang aku kerjakan adalah hal yang aku cintai, jadi jika di dalam ruang yang aku cintai sudah mulai ada politik yang tidak asyik lagi, lebih baik aku keluar,” lanjut Lulu yang diteruskan dengan kalimat “Ibaratnya, kalau bisa dari runway langsung silam ke bandar udara Internasional Halim Perdanakusuma,” sambil tertawa terbahak - bahak.


Lulu tidak mempermasalahkan ketika ia tidak lagi mendapat undangan ke acara pesta besar. Baginya saat jauh dari keramaian, ia jadi lebih mudah ‘mendengar’ dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri. “Setahun terakhir aku baru menemukan kata ‘berjarak’, yaitu aku tidak bisa ketemu orang setiap saat atau datang ke pesta besar. Secara tidak sadar, aku justru merawat jarak itu. Aku juga tidak mau terlalu konsentrasi untuk (label) Lulu Lutfi Labibi karena hal itu bisa membuat aku tumpul. Dia tidak berbaur karena mungkin dia akan sama dengan yang lain. Kekuatannya berada pada menjaga jarak, karena membuat aku merasa fresh.

Author: Ayu Utami

You Might Also LIke