ads



Stay in The know

Glitz Journal

3 Dampak Makanan Cepat Saji pada Anak

3 Dampak Makanan Cepat Saji pada Anak

Mulai sekarang, sebaiknya Anda lebih kreatif mengolah dan menyajikan makanan untuk anak.

Durasi baca: 55 detik


Makanan cepat saji seringkali dipilih sebagai alternatif agar si Kecil lebih berselera makan. Rasa yang lezat, gurih, dan tampilan yang menarik tentu membuat makanan cepat saji menjadi makanan favorit anak-anak. 

(BACA JUGA: Jajal 5 Jananan Ringan Khas Kota Malang)


Namun, menurut penelitian yang dilakukan pada 500.000 anak di 31 negara dan telah dipublikasikan pada International Study of Asthma and Allergies menyatakan bahwa makanan cepat saji banyak dikaitkan dengan gejala asma, rinitis, hingga masalah kulit seperti eksim pada anak. Terlalu sering makan makanan cepat saji pada anak juga meningkatkan risiko:


OBESITAS ANAK

Dampak buruk makan makanan cepat saji adalah memicu obesitas. Kandungan kalori yang berlipat-lipat menjadikan alasan makanan cepat saji menjadi pemicu obesitas. Perpaduan roti, daging, keju, dan saus bisa mengandung banyak kalori. Belum lagi proses memasak yang tidak sehat menyebabkan makanan cepat saji menjadi lebih tidak sehat. 


TIMBULNYA PENYAKIT KRONIS

Selain meningkatkan obesitas, kurangnya asupan gizi dan terlalu banyak gula di masa tumbuh kembang membuat anak berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan serius seperti diabetes melitus tipe-2, hipertensi, kanker, dan atherosclerosis.



Atherosclerosis adalah plak yang ada dalam arteri. Plak ini disebabkan oleh sodium dan kolesterol yang tinggi dalam makanan cepat saji. Kondisi ini bisa diminimalisir dengan konsumsi serat dan buah-buahan segar. 


MUDAH LEMAS

Meskipun anak banyak makan, faktanya makanan cepat saji tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Itulah mengapa banyak anak yang malnutrisi meski banyak makan. Hal ini karena makanan yang dikonsumsi minim nutrisi dan tidak sehat. 


Kurangnya asupan gizi, vitamin dan mineral saat masa tumbuh kembang tentu membuat anak cenderung lemas dan tidak bertenaga dalam melakukan aktivitas sehari-hari.


(Ratih Dwiningtyas, foto: Pexel.com/ Pixabay)


You Might Also LIke