×

Stay in The know

Hotspot & Travel

Sempat Mati, Geliat Kopi Cianjur Perlahan Bangkit Kembali

Sempat Mati, Geliat Kopi Cianjur Perlahan Bangkit Kembali
Andiasti Ajani

Sat, 19 October 2019 at 18.36

Kopi khas Kota Cianjur kini dikemas dengan merek Kopi Sarongge.

Durasi baca: 1 menit.


Pada zaman penjajahan Belanda dulu, Kota Cianjur dikenal sebagai produsen kopi terbaik dan salah satu yang terbesar di dunia. Karena tingginya permintaan kopi dari Belanda, maka pemerintah pada saat itu memaksa seluruh masyarakatnya untuk menanam kopi bahkan hingga di pekarangan rumahnya.


Paksaan tersebut akhirnya membuat masyarakat Cianjur marah. Mereka kemudian menghancurkan semua tanaman kopi yang ada di Kota Cianjur. Karena kejadian itu, akhirnya industri kopi di Cianjur tiarap hingga akhirnya menghilang tanpa jejak.


Puluhan bahkan ratusan tahun kemudian, Presiden Joko Widodo meresmikan Perhutanan Sosial dengan luas 21 hektar. Hutan ini diserahkan Presiden Joko Widodo, untuk warga sekitar agar bisa produktif bercocok tanam. Salah satu tanaman yang dikembangkan adalah kopi.


Saat ini, kopi yang dihasilkan dari kebun di Perhutanan Sosial, dikelola oleh seorang inisiator bernama Tosca Santoso. Tosca yang juga pensiunan wartawan ini mengatakan bahwa mengembangkan kopi Cianjur banyak sekali tantangannya. Terlebih karena kopi bukanlah komoditi yang populer di sana.

(BACA JUGA: Semalam di Cianjur, Banyak Cerita dan Rasa yang Terungkap)




Namun berkat kegigihannya dalam mengembalikan popularitas kopi Cianjur, Tosca bekerja sama dengan penduduk di Desa Sarongge, dan mengemas kopi hasil panen dari Perhutanan Sosial, dengan nama Kopi Sarongge.


Tosca sendiri saat ini memiliki rumah yang juga menjadi lahan untuk pengelolaan biji kopi yang dikirim petani dari hutan. Tempat tersebut bernama Negri Kopi. Di Negri Kopi inilah satu biji kopi dikelola atau proses hingga akhirnya menjadi bubuk dan dapat diminum oleh para konsumen.


“Kopi Sarongge itu unik, berbeda dengan kopi-kopi kebanyakan. Karena Kopi Sarongge ditanam di lahan agroforestri, atau di hutan. Sehingga proses fotosintesisnya tidak rata, karena tidak semua sudut hutan terkena paparan sinar matahari. Tetapi, Kopi Sarongge sendiri tidak membutuhkan banyak cahaya matahari. Hanya sekitar 60 sampai 70 persen saja. Hal inilah yang membuat Kopi Sarongge menjadi unik,” tutur Tosca.


Tetapi sayangnya, kondisi yang kurang lebih sama juga dimiliki oleh kopi-kopi dari daerah di Jawa Barat yang lain. Hal ini kemudian semakin menjadi tantangan bagi Tosca dan kawan-kawan, untuk berusaha mempertahankan cita rasa dan kualitas agar bisa bersaing dengan kopi-kopi dari daerah Jawa Barat lainnya.


“Saingan terberat Kopi Sarongge adalah kopi dari daerah Buntang dan Malabar. Karena iklim di dua tempat tersebut mirip dengan di Perhutanan Sosial. Sehingga kita masih terus mencari formula terbaik agar Kopi Sarongge bisa memiliki ciri khas di masyarakat,” tutupnya.




(Andiasti Ajani, foto: andiasti ajani, tokopedia.com)

You Might Also LIke