Sebelum menjadi negara kesatuan seperti saat ini, Indonesia terbagi menjadi banyak kerajaan. Setiap kerajaan tentunya meninggalkan banyak peninggalan sejarah, misalnya seperti Candi. Nah, salah satu candi tertua yang ada di Indonesia terletak di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Dataran Tinggi Dieng. Konon, di sana terdapat candi yang hingga saat ini tak diketahui siapa yang membangunnya.

Hmm, apakah Anda adalah seseorang yang tertarik dengan wisata sejarah? Jika ya, Dataran Tinggi Dieng harus menjadi destinasi Anda saat berlibur. Pasalnya, tempat wisata yang terletak di Kota Wonosobo ini memiliki sejarah yang panjang. Menurut warga setempat, Dieng memiliki arti gunung para Dewa. Mereka percaya bahwa dataran tinggi ini telah lama menjadi tempat tinggal para Dewa. Buktinya adalah keberadaan telaga warna-warni, atau yang lebih dikenal dengan Telaga Warna.


Telaga Warna adalah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung. Tepat di samping Telaga Warna, Anda dapat melihat sebuah telaga yang berwarna bening dan warnanya tidak terpengaruh dengan kandungan belerang di dalamnya. Namanya Telaga Pengilon. Pemisah antara kedua telaga ini hanyalah rerumputan yang sekilas nampak seperti rawa kecil. Menurut warga setempat, air di telaga ini tak pernah surut meskipun menjadi sumber irigasi bagi pertanian di sekitar Dataran Tinggi Dieng.

Selain telaga, Anda juga akan dipukau oleh keberadaan gua-gua eksotis seperti  Gua Semar, Gua Jaran, dan Gua Sumur yang terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Banyak yang mengatakan, di sinilah tempat beristirahat para Dewa. Tak heran jika Anda akan menemukan banyak persembahan berupa sesajen yang diletakkan warga setempat di mulut gua.


Beranjak naik ke 2.000 meter di atas permukaan laut, Anda akan dicengangkan oleh Kompleks Candi Dieng. Terdapat candi-candi kecil sebanyak sembilan candi, yaitu Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati. Konon, candi ini sudah dibangun sejak abad ke-8 atau ke-9. Meski belum diketahui kerajaan mana yang sebenarnya membangun candi-candi ini, namun diperkirakan pendiriannya diperintahkan oleh Wangsa Sanjaya.

Kompleks candi ini sempat tersembunyi karena tenggelam oleh air telaga di tahun 1814. Seorang tentara Inggris-lah yang menemukannya pertama kali. Candi ini baru diselamatkan dari genangan pada tahun 1856 oleh Van Kinsbergen, seorang perwira angkatan laut Belanda dan dilanjutkan tahun 1864. Keberadaannya di tengah-tengah jajaran pohon pinus menambah keindahan Kompleks Candi Dieng.


Jika beruntung dan sesuai waktunya, Anda juga bisa ikut menyaksikan Dieng Culture Festival yang merupakan acara budaya tahunan masyarakat Dieng yang biasanya digelar pada bulan Juni - Agustus. Acara ini semakin meriah pada malam hari, karena menyuguhkan lampu-lampu indah yang menghiasi alam Dieng. Beberapa acara tradisional lainnya yang dilakukan masyarakat setempat pun dapat menarik perhatian untuk disaksikan maupun diabadikan lewat kamera pribadi Anda.   

Jika ya tertarik menikmati wisata alam dan sejarah di Dataran Tinggi Dieng, Anda dapat mengaksesnya melalui rute Kabupaten Banjarnegara atau Wonosobo. Namun, jalur Wonosobo menjadi rute yang paling diminati. Anda perlu menempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan mobil. Selama perjalanan, Anda pun akan disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Namun, berhati-hatilah saat melintas, sebab jalanan di sana hanya cukup dilalui oleh satu mobil dalam dua arah jalan yang berlawanan. Anda harus berkonsenterasi kala mengendarai mobil. Satu lagi yang perlu Anda perhatikan, hindari pergi saat musim hujan. Selain warna telaga yang akan mengeruh, rute perjalanan ke Dieng dikelilingi tebing yang rawan longsor saat hujan.


So Glitzy, siap berpetualang ke kawasan para Dewa?

(Shilla Dipo, Images: Corbis)