Kalau ada kesempatan, kamu wajib mengunjungi desa ini.


Negara-negara di wilayah Benua Eropa, memang selalu berhasil mencuri perhatian kita. Perpaduan antara budaya modern dan budaya klasik yang mereka miliki, mampu membuat kita membayangkan bagaimana masyarakat di negara tersebut hidup pada zaman dulu.


Dari sekian banyak negara di Eropa, Belanda menjadi salah satu negara yang bisa dibilang memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Ketika berlibur atau mengunjungi Belanda, umumnya orang-orang akan pergi ke Amsterdam.


Tapi tahukah kamu kalau masih banyak kota-kota di Belanda yang juga patut untuk dikunjungi karena menyimpan pesona yang mampu membuat kamu tidak mau pulang. Salah satunya adalah Desa Giethoorn.



Selain disebut sebagai Negeri Kincir Angin atau Negeri Tulip, Belanda juga dikenal dengan sebutan Negara Air. Sebab, negara ini memiliki akses air yang berlimpah. Karena itulah, Belanda juga memanfaatkan jalur air sebagai salah satu pilihan transportasi di negaranya.


Kalau kamu berkunjung ke Giethoorn, percayalah. Kamu akan sulit sekali menemukan kendaraan bermotor seperti mobil atau sepeda motor. Sebab desa ini menggunakan air sebagai jalur utama untuk transportasi.


Karena hampir tidak ada kendaraan bermotor, maka suasana di Giethoorn sangat tenang sekali. Udaranya pun terbilang bersih. Desa Giethoorn sendiri termasuk ke dalam wilayah Taman Nasional Weerribben-Wieden yang ada di Provinsi Overijssel.

(BACA JUGA: Exeter, Salah Satu Kota di Inggris yang Menyimpan Pesona Ajaib)




Karena jalur air adalah akses utama transportasinya, maka kamu akan menemukan kurang lebih 170 jembatan kayu kecil yang menghubungkan setiap rumah penduduk di desa tersebut.


Melansir dari holland.com, desa Giethoorn didirikan dan dijadikan pemukiman oleh para petani gambut. Proses penebangan gambut yang dilakukan oleh para petani, ternyata berhasil menciptakan kolam dan danau yang luas.


Lalu tanaman-tanaman gambut yang berhasil mereka tebang, digunakan sebagai bahan utama untuk membangun pondok di sekitar danau. Karena jumlah petaninya banyak, akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai desa.


Karena setiap wilayah terpecah dan akses jalur airnya tidak terlalu besar, maka merekapun berinisiatif untuk membangun jembatan kecil serta perahu-perahu yang untuk menggerakkannya menggunakan kayu panjang (seperti perahu di sunga venesia, Italia).




Kemudian mereka mulai membangun akses antar pondok dengan membuat jembatan dan perahu sebagai alat transportasi utama di sana. Seiring dengan berjalannya waktu, desa Giethoorn memang telah mengalami banyak perubahan.


Karena kini, desa tersebut sudah ditetapkan sebagai desa wisata. Seperti perahu misalnya, kamu akan banyak menemukan perahu yang digerakkan oleh listrik. Rumah-rumah atau pondok yang ada di sanapun sudah mulai modern.


Tetapi kalau kamu berkunjung ke sana, kamu bisa mengikuti tur menggunakan perahu selama satu sampai dua jam. Nantinya, kamu akan dibawa melewati rumah-rumah petani dari abad ke-18 dan ke-19, yang juga menjadi rumah-rumah di awal kelahiran desa Giethoorn.




(Andiasti Ajani, foto: giethoorntourism.com)