Setelah puluhan tahun menjadi museum, Hagia Sophia kini resmi kembali beroperasi sebagai masjid.

Durasi baca: 1 menit.


Kemarin, media massa dunia dihebohkan dengan keputusan Presiden Turki yakni Recep Tayyip Erdogan yang menjadikan bangunan bersejarah Hagia Sophia sebagai masjid. Hagia Sophia memang sempat bergonta-ganti muka.


Setidaknya tiga kali menjadi gereja, satu kali menjadi masjid, dan terakhir menjadi museum sejarah.  Banguan ini konon dibangun dan diresmikan oleh Uskup Arian, Edoxius dan Antiokia pada masa pemerintahan Kaisar Konstantius II pada 15 Februari 360.


Bangunan ini awalnya disebut dengan nama Megálē Ekklēsíā atau dalam bahasa Latin disebut Magna Ecclesia yang artinya adalah Gereja Agung. Namun tidak jauh dari Gereja Agung ini, telah berdiri gereja lain yang bernama Hagia Eirene yang artinya adalah kedamaian suci.


Kedua gereja ini berperan sebagai gereja utama dari Kekaisaran Romawi Timur. Namun perang politik antara Patriark Konstantinopel yakni Krisostomus dengan Permaisuri Aelia Eudoxia, istri dari Kaisar Arcadius yang diasingkan pada 20 Juni 404. 


Karena perselisihan ini, gereja pertama ini turut menjadi korban. Gereja ini hancur tidak bersisa karena habis dilahap si jago merah. Setelah itu, ditempat yang sama kembali dibangun gereja kedua atas perintah Kaisar Theodisius II. Gereja ini kemudian diresmikan pada 10 Oktober 415.

(BACA JUGA: Berlibur ke Hong Kong? Pastikan Mampir ke K11 MUSEA) 


Gereja ini memiliki atap berbahan kayu dan dibuat oleh seorang arsitek bernaam Rufinus. Sayangnya, saat masa kerusuhan nika gereja ini kembali terbakar. Tepatnya pada tanggal 13-14 Januari 532. Sisa-sisa bangunan yang terbakar konon masih ada sampai sekarang.


Termasuk yang ada di bawah bangunan. Tetapi para arkeolog memutuskan untuk tidak menggali semuanya, lantaran tidak mau merusak struktur bangunan Hagia Sophia.  Usai gereja kedua hancur terbakar, gereja ketiga kembali dibangun di atas lahan yang sama.


Kali ini, gereja dibangun atas perintah Kaisar Yustinianus I. Ia bahkan mau gereja yang kali ini dibangun dengan konsep yang lebih luas dan megah. Ia bahkan melibatkan ahli fisika dan matematika, serta sejarawan ketika membangun gereja ini. 


Lebih dari 10 ribu orang dipekerjakan dalam pembangunan gereja ini. Teori-teori yang pernah dikemukakan oleh Heron dari Alexandria bahkan ikut digunakan dalam pembangunan gereja ini. Terutama untuk bagian kubah yang membutuhkan ruang luas di atas.