Tata kota Depok yang buruk, disorot oleh organisasi internasional bernama Cities Development Initiative of Asia.

Durasi baca: 50 detik.


Sebelum membaca lebih lanjut soal artikel ini, GLITZMEDIA ingin Anda membayangkan skema berikut: ada sebuah kota di mana perkembangannya pesat sekali. Hampir setiap hari, ada saja unit bisnis baru yang hadir di kota tersebut. Mulai dari bisnis makanan dan minuman sampai properti.


Tapi sayangnya, perkembangan kota tersebut tidak sejalan dengan kesiapan kotanya. Seperti wilayah yang tidak ada perluasan, sampai tidak adanya lahan parkir di sekitar unit bisnis yang ada. Skema ini, adalah skema sederhana yang bisa menggambarkan Kota Depok, Jawa Barat.


Anda yang merupakan warga Kota Depok, pasti menyadari tentang permasalahan yang satu ini. Tidak heran, jika jalan atau akses utama Kota Depok yakni Jalan Margonda Raya, tidak pernah terbebas dari kemacetan lalu lintas. Apalagi di akhir pekan.


Ojek dan taksi online saja ogah melayani penumpang yang ingin bepergian ke Depok.  Karena kondisi Jalan Margonda Raya memang separah itu. Baru-baru ini, kondisi Kota Depok yang semrawut mendapat sorotan dunia.


Sebuah organisasi internasional bernama Cities Development Initiative of Asia (selanjutnya disingkat CDIA), menganugerahi Depok sebagai kota dengan tatanan yang buruk. Untungnya, Depok tidak sendiri.


CDIA juga menganugerahi gelar yang sama pada salah satu kota di Filipina dan India. Terciumnya tata kota Depok yang buruk, diawali oleh seorang warga Depok bernama Husnul Khotimah, yang sudah tinggal di Depok selama tujuh tahun. 

(BACA JUGA: Wisata ke-5 Kota Terbersih di Dunia) 




Sebagai warga, Husnul mengungkap betapa tidak teraturnya tata kota Depok. Terutama untuk para pejalan kaki. Lewat foto yang ia berikan pada CDIA, terlihat orang ingin menyeberang jalan di zebra cross.


Tetapi kendaraan bermotor tidak peduli dan tetap saja melaju dengan cepat. Padahal fungsi zebra cross adalah untuk menyeberang jalan. Jika ada orang hendak menyeberang di zebra cross, maka pengendara motor atau mobil wajib berhenti. Meskipun tidak ada rambu lalu lintas.


Foto yang diberikan oleh Husnul ini diunggah oleh CDIA di akun Facebook mereka, dan berhasil disukai oleh dua ribu akun. Husnul sendiri tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan kota tempat tinggalnya.


Tetapi ia justru ingin mengajak banyak warga Depok terutama anak-anak muda, untuk lebih peduli dan mau terjun langsung sebagai bentuk kontribusi untuk memperbaiki kota mereka tinggal.


“Saya berharap dengan munculnya isu ini, bisa membangkitkan minat anak-anak muda untuk peduli dengan kota atau daerah yang menjadi tempat tinggal mereka. Aksi ini bisa dimulai dengan memerhatikan, mempelajari, dan melibatkan diri dalam komunitas yang tujuannya adalah untuk pembangunan negeri,” ungkap Husnul.



(Foto: dokumentasi tempo.co)


(Andiasti Ajani, foto: pikiran-rakyat.com)