Kira-kira kenapa ya?


Siapa nih di antara kamu yang punya cita-cita, kalau punya rumah mau ada kolam renangnya? Tidak dipungkiri karena memang di zaman dulu kalau ada rumah punya kolam renang artinya pemilik rumah itu adalah orang dengan kondisi ekonomi kelas atas.


Mengingat biaya perawatan kolam renang sendiri sangatlah tidak murah. Siapa lagi yang bisa mengeluarkan dana untuk perawatan kolam renang kalau bukan kaum borju? Meskipun indah dan mewah, tapi ternyata fasilitas kolam renang yang ada di rumah disebut sebagai feng shui yang buruk, lho!


Beberapa dari kamu mungkin ada yang pernah mendengar hal ini. Tetapi sayangnya, ada kesalahpahaman yang terjadi jika membahas kolam renang dan hubungannya sebagai feng shui buruk.


Umumnya banyak ahli membahas tentang posisi dari kolam renang itulah yang membuat kolam renang tersebut menjadi feng shui buruk. Padahal tidak begitu. Feng shui sendiri merupakan perpaduan antara sejarah, perilaku manusia, dan sains.


Sehingga tidak bisa dijelaskan secara teori alias harus dirasakan sendiri. Ada teori-teori yang bisa dibuktikan dengan melakukan atau mencobanya sendiri. Melansir dari aurtalks.com, sebelum membahas lebih lanjut soal bagaimana bisa kolam renang di rumah adalah feng shui yang buruk, kita perlu lebih dulu menelaah soal hubungan air dengan kehidupan manusia.

(BACA JUGA: Ketahui Bahan Panci atau Wajan yang Paling Baik dan Sehat)


Di dalam budaya Cina kuno, ada anggapan bahwa genangan air di dalam rumah bisa membawa kemakmuran dan chi yang baik untuk si pemilik rumah. Ratusan bahkan ribuan tahun lalu, manusia bahkan percaya bahwa mereka tidak hanya harus bercocok tanam untuk kebutuhan makanan mereka, tetapi juga mengumpulkan air bersih untuk dipakai minum, memasak, dan lain sebagainya.


Seorang penasehat feng shui tradisional asal Cina bahkan sering menyarankan pada kliennya, jika mau membeli sebidang tanah pastikan bahwa tanah tersebut memiliki sumber air yang alami. Karena jika sebidang tanah mengandung air yang melimpah, maka tanah tersebut berpotensi untuk memberikan hasil yang maksimal.


Jika hasil yang diberikan maksimal, maka pemilik tanah juga akan mengalami kemakmuran berkat sektor perdagangan yang kuat. Tidak hanya itu, tanaman yang ditanam di atas tanah dengan jumlah air melimpah, biasanya memiliki akar yang sangat kuat. Sehingga mampu melindungi sang pemilik rumah jika terjadi bencana alam seperti banjir atau angin kencang.


Sayangnya, analogi ini sudah tidak relate jika diaplikasikan ke zaman sekarang. Seiring dengan perkembangan dunia, manusia kini tidak lagi menikmati air secara alami. Mayoritas penduduk sudah tidak bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya.


Begitupun dengan air yang kini sudah didistribusikan melalui pipa ledeng. Artinya, nilai kebaikan dari air yang ada di dalam hidup kita sekarang sudah bergeser nilainya. Begitupun dengan kolam renang atau fitur air lainnya.



(Foto: unsplash.com/big.tiny.belly)