Stay in The know

Career & Money

TISSA AUNILLA, JALANKAN BISNIS TAK CUKUP BILANG SUKA SAJA

TISSA AUNILLA, JALANKAN BISNIS TAK CUKUP BILANG SUKA SAJA


Memulai usahanya di usia 34 tahun, TISSA AUNILLA bersama Irvan Helmi, partner bisnis yang juga adik kandungnya, merintis bisnis kuliner yang diberi nama PIPILTIN COCOA. 

Kini, Pipiltin telah menunjukkan eksistensinya di dunia kuliner tanah air, terbukti Pipiltin telah terpilih sebagai salah satu pioner pabrik cokelat yang mengangkat kualitas terbaik cokelat Indonesia. Pipiltin juga mendapatkan Gold Medals dari beberapa kompetisi pastry dan cokelat di Jakarta dan Singapura.

Awalnya Tissa bekerja sebagai pengacara selama 8 tahun, tapi hal ini tak pernah disesali Tissa. “Saya merasa medapat bekal yang cukup untuk memulai bisnis sendiri, karena saat menjadi pengacara saya dituntut harus teliti, tekun, bekerja keras, dan memperhatikan detail,” jelas Tissa.

Indonesia berpotensi besar akan kekayaan alamnya, berupa cokelat. Indonesia produsen ketiga terbesar di dunia. Tissa jeli melihat peluang ini dan berpikir untuk ‘bermain’ dengan cokelat. 




Riset Itu Penting

Glitz Media tertarik dengan kegigihan Tissa melakukan riset. Tak hanya sebatas gampang berkata “saya cinta dunia kuliner”, Tissa menunjukkan kalau dia tak main-main terjun ke bisnis yang berbeda jalur dengan profesinya dulu. Tissa merasa perlu tahu lebih dalam tentang ‘mainan’ dan ‘cara memainkan’ bisnis yang dia geluti. 

Tissa dan partner melakukan riset mendalam selama 3 tahun sebelum membuka bisnis ini. Dia melakukan trial and error, mencoba handling beberapa merk dan tipe cokelat berbeda-beda, membuat dapur khusus di rumahnya sendiri, hingga mengelilingi Indonesia untuk mendapatkan biji cokelat terbaik. 

Tissa belajar mengenal cokelat secara otodidak ditambah mengikuti kursus intensif. Selanjutnya, Tissa mengembangkan pengetahuannya untuk belajar lebih dalam lagi, dia bercerita, “Karena ingin mempelajari lebih lagi tentang pembuatan cokelat dari bijinya dan handling cokelat secara umum, saya mendalami ilmu dan mengambil Master Chocolatier Program di Felchlin, Switzerland.” 


Pintar Mengolah Modal

“Pipiltin menggunakan modal kami sendiri, tanpa pinjaman dari pihak luar. Kami mengolah produksi seefisien mungkin sehingga sebagian profit kami sisihkan untuk laba yang ditahan.”

Tissha pun menambahkan, “Kerja keras penting, tapi lebih penting lagi work smartly. Banyak bisnis yang bermula dengan modal minim, tetapi karena pengetahuan, passion, dan konsistensi dari SDM itu sendiri, bisnis bisa berkembang pesat.” 


Tak Terjebak Dalam Masalah 

Meskipun bisnis kuliner terlihat aman-aman saja, tapi yang namanya kendala selalu ada. Tissa sendiri merasa kesulitan ketika membaca selera pasar orang Indonesia akan cokelat. “Indonesia bukan negara pemakan cokelat seperti Eropa atau Amerika. Memperkenalkan dark chocolate yang merupakan rasa asli cokelat sedikit sulit karena orang Indonesia terbiasa mengonsumsi makanan yang manis,” curhat Tissa.

Tissa pun menggabungkan idealismenya dengan selera pasar dan berevolusi melalui produknya agar tetap bisa mengangkat cita rasa cokelat asli, tetapi tetap nyaman di lidah orang Indonesia. 


Sukses Itu Harus Bermanfaat Untuk Orang Lain  

Tolak ukur sukses bukan hanya uang tetapi kepuasan pribadi yang dicapai. Kami (Pipiltin) membeli biji cokelat langsung dari petani—tanpa perantara. Kami mengharuskan petani tersebut untuk memenuhi kriteria yang diinginkan. Tentu saja petani pun akan mendapatkan harga yang premium. Inilah arti kesuksesan buat kami, ketika kepuasan batin tercapai karena kami bermanfaat bagi orang lain dan membantunya meningkatkan kualitas hidup lebih baik.” 

Selanjutnya, Pipiltin akan memperluas distribusinya. Seperti sekarang, Pipiltin sudah masuk ke pasar retail agar berkembang lebih cepat. Cokelat Pipiltin tidak hanya tersedia di store-nya sendiri, tapi juga di toko-toko retail lainnya. Sukses buat Pipiltin Cocoa semoga makin memperbesar nama Indonesia (dan kekayaan alamnya) di seluruh dunia. 

(Kissy Aprilia, Image: Dok. Pribadi, Tulisan.com)


You Might Also LIke