×

Stay in The know

Career & Money

Eksklusif: Mengenal Tiza Mafira, Inisiator Kebijakan Kantong Plastik Berbayar

Eksklusif: Mengenal Tiza Mafira, Inisiator Kebijakan Kantong Plastik Berbayar
Saskia Damanik

Thu, 21 April 2016 at 00.40

Menjadi istri, ibu, sekaligus dosen adalah kesibukan lain yang dijalani Tiza Mafira.

Tak hanya memperingati ulang tahun Kartini ke-137, tanggal 21 April juga identik dengan perayaan emansipasi wanita. Jika dulu wanita terkesan hanya bekerja di dapur, kini banyak sekali wanita yang telah turut andil dalam memberikan perubahan, walaupun tak meninggalkan tanggung jawabnya di dapur sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Salah satu sosok inspiratif yang GLITZMEDIA.CO angkat dalam perayaan Hari Kartini tahun ini adala Tiza Mafira. Ia telah memberikan dampak besar bagi Indonesia, terutama di bidang lingkungan. Tiza merupakan pelopor kebijakan kantong plastik berbayar yang kini sudah diterapkan di berbagai supermarket. (BACA JUGA: Eksklusif: Cerita Inspiratif Tiza Mafira Jalankan Kampanye Diet Kantong Plastik).

Wanita yang pernah bekerja sebagai Staff Khusus Kepresidenan di bagian Internasional Affair selama masa Kepemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ini pun berperan sebagai ibu dan istri. Seperti apakah kehidupan sehari-hari dari Tiza? Simak wawancara eksklusifnya bersama GLITZMEDIA.CO. 




Keluarga Merupakan Pembentuk Pribadian Anak 

Menurut Tiza, sejak kecil ia telah ditanamkan tanggung jawab oleh orangtuanya. Buktinya, kedua orangtua Tiza sudah mengembankan kewajiban untuk membersihkan semua keperluannya—kamar, piring, dan sebagainya—terlebih di usia remaja. Ia pun tak merasa keberatan dengan hal tersebut karena baginya membersihkan rumah sudah menjadi tanggung jawab dan pekerjaan keluarga. Rupanya, hal tersebut pun sudah ia tanamkan sejak dini pada anaknya. 

“Semua berawal dari contoh. Jika kita sebagai orangtua memberikan contoh yang baik, maka anak pasti akan mengikuti. Jadi, mulai dari orangtuanya dulu, baru anak akan mengikuti,” ucapnya.


Menyebarkan Virus Positif

Sudah sejak lama Tiza membawa kantong plastik sendiri. Awalnya, tak ada yang peduli dengan aksinya, namun karena konsistensinya, banyak rekan Tiza justru mengikuti kebiasaan tersebut. “Saya menerapkan prinsip jika perubahan itu memang dimulai dari hal kecil yang dilakukan diri sendiri. Konsisten dalam melakukannya, maka orang lain akan tergerak untuk melakukan hal tersebut,” ucapnya. 

Sebelum melakukan gerakan dalam skala nasional, Tiza pun sudah mengedukasi lingkungan dengan apa yang dilakukannya. Walaupun kini gerakannya mulai berpengaruh secara luas, Tiza tetap tidak berhenti untuk terus menyebarkan hal positif ini pada semua orang.




Fokus ke hukum lingkungan

Menjadi sarjana jurusan Hukum Internasional yang fokus pada Hukum Lingkungan di Universitas Indonesia, membuat Tiza sadar betul akan bahaya yang mengancam lingkungan. Apalagi, ia memperdalam studinya tersebut dengan mengambil gelar masternya di Harvard Law School, dengan mengambil Corporate Law, Climate Change, Carbon Trading. 

“Meskipun saya keluar dari profesi sebagai pengacara, namun apa yang saya kerjakan kini justru sangat sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk fokus ke hukum lingkungan. Selain karier yang sejalan dengan latar belakang pendidikan, apa yang saya kerjakan ini diharapkan bisa bermanfaat untuk Indonesia bahkan dunia di waktu mendatang,” tegas wanita yang pernah bekerja di perusahaan hukum, Makarim & Taira S, selama 6 tahun lebih ini.


Menjadi ibu dan istri yang peduli lingkungan

Tak hanya dirinya, ia pun menerapkan aksi cinta lingkungan pada lingkup terdekatnya, yaitu keluarga. Tiza menyadari bahwa peran seorang wanita dalam rumah tangga sangatlah besar, terutama dalam menerapkan berbagai kebiasaan di rumah. “Saya dan suami sama-sama memiliki kesadaran untuk peduli akan lingkungan. Karena itu, kami sering menceritakan pada anak berbagai hal dasar untuk menanamkan kepedulian akan menjaga lingkungan."

"Saya biasanya menjelaskan, tentunya dengan bahasa sehari-hari, yang kasih tahu kalau semua sampah itu asalnya dari diri sendiri. Kedua, saya sampaikan juga bahwa sampah tersebut tidak hilang begitu saja. Sampah itu akan menumpuk, sehingga sebisa mungkin anak memahami untuk tidak memproduksi sampah-sampah yang sulit terurai."

"Sekali lagi saya tegaskan, Anda perlu menerapkannya dari diri sendiri dan suami, selanjutnya terapkan hal tersebut ke anak-anak. Nantinya, anak Anda akan melakukan pendidikan serupa tentang lingkungan pada anaknya, dan seterusnya. Jadi, mulai dari diri sendiri,” kata Tiza. Hal tersebut menunjukkan bahwa ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam menciptakan kebiasaan baik di keluarga, bahkan untuk generasi mendatang.




Dosen menjadi rutinitas lainnya

Selain menjadi aktivis lingkungan, wanita yang pernah mendapatkan Honors for Leading Student di Universitas Indonesia pada 2006 silam ini, juga sibuk menjadi dosen. Ia menjadi pengajar di Universitas Pelita Harapan jurusan Hukum. Mata kuliah yang ia ajarkan adalah “Trade, Environment, and Climate Change”. Ini bukan kali pertama Tiza mengajar. Pasalnya, ia sempat menjadi dosen tamu pada tahun 2013 untuk kuliah International Court of Justice, di mana ia harus mendesain sidang simulasi internasional.

“Jika memang sudah sadar untuk melakukan sesuatu yang baik, lakukan. Karena kesadaran memang seringkali sudah ada, namun tidak ada inisiatif untuk melakukannya. Semua dimulai dari diri sendiri untuk akhirnya memberikan kesadaran hingga inisiatif dari orang lain untuk ikut melakukan hal baik,” pesan Tiza, yang sekaligus menutup perbincangannya dengan GLITZMEDIA.CO.

(Shilla Dipo, Images: Twitter, Facebook)

You Might Also LIke