Stay in The know

Career & Money

Eksklusif: Cerita Inspiratif Tiza Mafira Jalankan Kampanye Diet Kantong Plastik

Eksklusif: Cerita Inspiratif Tiza Mafira Jalankan Kampanye Diet Kantong Plastik

Ternyata, kebijakan kantong plastik berbayar membutuhkan usaha selama 5 tahun lebih.

Perjuangan Kartini dalam menyetarakan hak kaum wanita dengan pria berbuah manis. Banyak kaum hawa yang kini mengepakkan sayapnya dan memberikan kontribusi besar bagi dunia—dan Tiza Mafira merupakan salah satunya. (BACA: Eksklusif: Mengenal Tiza Mafira, Inisiator Kebijakan Kantong Plastik Berbayar).

Tidak kenal lelah, wanita ini terus berupaya agar masyarakat Indonesia melakukan pengurangan penggunaan plastik. Tiza merupakan wanita di balik kebijakan kantong plastik berbayar yang kini sudah diterapkan di berbagai supermarket. Bahkan, ia pun menegaskan masyarakat untuk melapor jika ada pasar swalayan yang belum menerapkan kebijakan ini. 

Beruntung, GLITZMEDIA.CO berhasil berbincang dengan wanita berusia 32 tahun ini. Mari mengenalnya lebih jauh melalui ulasannya berikut ini, Glitzy.




Aksi Lingkungan Sudah Banyak, Tapi...

“Sebenarnya sudah banyak pihak yang menggalakkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Namun menurut pengamatan saya, gerakan yang massive masih terjadi di tahap reuse (penggunaan ulang barang bekas pakai), serta recycle (daur ulang), sementara reduce (mengurangi kebiasaan/penggunaan barang yang tak ramah lingkungan) masih jarang digalakkan,” jelasnya. 

“Penggunaan plastik di Indonesia sudah sangat banyak sekali sehingga sangat sulit ditangani. Sanking banyaknya, sampah plastik sudah tak terpegang di bagian reuse dan recycle, sehingga sangat perlu untuk dikurangi,” tambah Tiza ketika ditanyai mengapa memilih gerakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik.

 

Setelah Lebih Dari 5 Tahun, Usaha Itu Akhirnya Membuahkan Hasil

Kesadaran Tiza akan pentingnya mengurangi penggunaan kantong plastik sudah dimulai sejak sekitar 5 tahun yang lalu, tepatnya di pada bulan Oktober 2010. “Saya dan teman-teman di Bandung yang memiliki pandangan sama mengenai limbah plastik memulai sebuah kampanye yang bernama Diet Kantong Plastik. Kampanye ini mengajak masyarakat untuk membawa sendiri kantong belanjanya sendiri—baik yang berbentuk tas belanja, maupun plastik bekas yang mereka miliki,” kenang pemilik gelar LL.M Harvard Law School jurusan Corporate Law, Climate Change, Carbon Trading ini. 

“Pada tahun 2013, saya membuat sebuah petisi Pay for Plastik dan hasilnya ditandatangani oleh 70.000 orang. Sejak saat itu, saya bergabung dengan para pendukung untuk membuat gerakan nasional, sampai akhirnya terciptalah Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia (GDKPI),” ucap wanita yang pernah bekerja sebagai language consultant di McKinsey & Company itu.




Ini Usaha GDKPI

“Meskipun Pay for Plastic telah mendapatkan 70.000 tandangan, kebijakan tentu tak bisa langsung diaplikasikan. Karena itu, (sebelum kebijakan diaplikasikan) kami tak henti-hentinya mendesak pemerintah untuk membuat kebijakan, mendekati sekaligus mengedukasi para retailer, dan melakukan berbagai gerakan. 

Kami melakukan aksi “Rampok Plastik” di mana target kami adalah masyarakat yang didapati sedang membawa kantong plastik. Kantong plastik itu kami ambil dan menggantinya dengan tas belanja yang bisa dipakai ulang. Program berikutnya adalah “Wisata Plastik” di mana kami mengajak masyarakat ke Kali Ciliwung sambil bersih-bersih kantong plastik di sana,” kata wanita yang menempuh gelar sarjana di Universitas Indonesia jurusan Hukum Internasional ini.


Masyarakat Sadar, Hanya Saja Tidak Mengaplikasikan

“Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah melakukan survei kepada 10.000 masyarakat Indonesia mengenai kesadaran mereka akan bahaya kantong plastik. Hasilnya, 80% masyarakat sadar dan tahu kalau kantong plastik itu bahaya untuk lingkungan. Hanya saja, mereka tidak memiliki keinginan untuk mengurangi penggunaan karena para penjual dan pramuniaga memberikan plastik tersebut secara gratis sebagai wadah belanja,” papar Tiza. Untuk itu, pemaksaan agar masyarakat mau membatasi penggunaan plasti adalah dengan memberikan harga jual pada plastik tersebut.




Seharusnya, Harga Kantong Plastik Adalah IDR 5.000

Meskipun saat ini pemerintah telah membuat kebijakan dengan membebankan IDR 200 per kantong plastik di pasar modern, namun Tiza masih merasa harga tersebut terlalu rendah. “Idealnya (kantong plastik) dihargai IDR 5.000 agar masyarakat terasa terbebani. Tujuan dari kebijakan ini sebenarnya memang untuk membuat masyarakat merasa terbebani untuk membeli kantong plastik," ucap Tiza.

"Banyak kok, yang mengatakan jika harga yang berlaku terlalu murah, sehingga masyarakat tidak keberatan untuk menambahkan IDR 200 dalam pembelanjaannya. Kalau harganya IDR 5.000,00, pasti masyarakat enggan membeli kantong plastik dan memilih membawa tas belanja yang dapat digunakan berulang kali,” tambahnya lagi.


Laporkan, Jika Menemukan Pasar Modern Yang Tak Menerapkan Kebijakan

Tiza menyampaikan pada GLITZMEDIA.CO bahwa masih banyak pasar modern yang tidak menjalankan kebijakan kantong plastik berbayar sebagaimana mestinya. “Kejadiannya beragam, mulai dari pemberian kantong plastik secara cuma-cuma, hingga tidak adanya informasi yang disampaikan oleh pramuniaga pada pembeli. Padahal, pramuniaga wajib mengedukasi pembeli mengenai kebijakan tersebut. Misalnya, menanyakan terlebih dahulu apakah pembeli membutuhkan kantong plastik yang akan dibebankan IDR 200 atau tidak. 

Banyak yang langsung memasukkan harga kantong plastik tanpa bertanya terlebih dahulu pada pembeli yang bersangkutan. Jika hal ini Anda temukan, segera melapor kepada kami,” tutur Tiza Mafira. 




Bukan tanpa tujuan, namun Tiza meyakini pelaporan tersebut perlu dilakukan untuk menanamkan rasa disiplin dalam menjalani aksi mengurangi penggunaan kantong plastik. Anda dapat melaporkannya melalui http://dietkantongplastik.info/kontak/ atau hubungi 0812-2096-791 atau melalui e-mail ke [email protected] 

Ayo, dukung gerakan positif ini dengan mengurangi penggunaan kantong plastik, mengajak orang sekeliling Anda, serta cermat mengamati keadaan lingkungan. Info lebih lanjut Glitzy bisa kunjungi http://dietkantongplastik.info/

(Shilla Dipo, Images: Facebook, Twitter, Instagram)

Author:

You Might Also LIke