Stay in The know

Career & Money

Dilema Ibu Bekerja: Karier atau Keluarga?

Dilema Ibu Bekerja: Karier atau Keluarga?

Bagi sebagian besar perempuan aktif di masa kini, pilihan untuk tetap berkarier atau fokus pada keluarga bukanlah sebuah perkara mudah. 

Durasi baca: 1 menit 10 detik


Dua pilihan untuk menjadi perempuan karier dan menjadi full time mom, kerap kali menjadi dilema. Anda setuju? Apalagi untuk Anda yang terbiasa bekerja sejak lulus kuliah atau sejak dibangku sekolah. 


Singkat kata, Anda terbiasa aktif dengan mobilitas tinggi. Namun seiring dengan berjalannya usia Anda telah memiliki keluarga yang menuntut peran Anda sebagai ibu. Apalagi, stereotip bahwa perempuan sebaiknya mengurus rumah tangga saja masih seringkali diumbar.  

(BACA JUGA: Bekerja dari Rumah Tidak Selamanya Menyenangkan)


Tak sedikit orang di sekeliling Anda yang notabene seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang teman kerap kali mem-posting tulisan di media sosial yang menyindir ibu bekerja. Hal ini tentu seringkali membuat telinga Anda panas atau malah mengurut dada. 


Bu, apapun pilihan Anda bekerja atau sebagai ibu rumah tangga, disadari atau tidak, Anda tetaplah seorang perempuan bekerja. Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain. 


Anda yang bekerja, tidak perlu mengumbar tentang keperkasaan Anda sebagai ibu bekerja dan memiliki karier. Demikian juga untuk Anda yang memutuskan untuk mengambil peran sebagai full time mom, hindari mengumbar perasaan Anda yang dapat memiliki waktu lebih banyak mengurus anak dan keluarga. 


Fokuskan pada apa yang penting dan sudah menjadi pilihan Anda. Kemudian, bersyukurlah. 


TETAP BERKARIER, BEKERJA UNTUK KEBUTUHAN KELUARGA

Berkeluarga bukan penghalang untuk berkarier. Sebaliknya, memilih berkarier pun jangan disalahartikan dengan mengesampingkan keluarga (dan anak). Jika Anda merasa bisa menyeimbangkan keduanya, kenapa tidak? 


Lagipula, di era modern seperti sekarang ini, cukup banyak ibu bekerja yang benar-benar bekerja untuk kebutuhan hidup primer keluarga, terutama anak-anaknya. Jadi, bukan hanya untuk eksistensi untuk bisa belanja barang branded atau belanja barang keinginan ibu bekerja saja.


Malah bisa jadi, ibu bekerja tersebut adalah tulang punggung keluarga. Walaupun (seolah) sudah disepakati masyarakat umum bahwa suamilah yang sebenarnya menjadi tulang punggung keluarga. Namun, di tengah kebutuhan hidup yang kian meningkat, belum tentu pendapatan suami cukup. Anda berdua dituntut untuk saling bahu membahu untuk mencukupi kebutuhan keluarga. 


Di Amerika, sebagai salah satu negara maju, poling yang dilakukan situs www.oprah.com terhadap 15.000 perempuan, hasilnya menyatakan 90% ibu memilih tetap bekerja karena alasan finansial. Setiap perempuan ingin membantu suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. 


WUJUD CINTA YANG BEDA

Meniti karier hingga mendapatkan posisi/jabatan tinggi bukanlah suatu hal mudah. Apalagi jika karier sedang berada di puncak. Sayang rasanya untuk meninggalkan karier begitu saja. Apalagi, jika Anda merupakan tipe perempuan aktif yang yang multitasking, bisa membagi waktu, dan bisa menyeimbangkan diri antara karier dan keluarga. 

(BACA JUGA: Khloe Kardashian Membagi 6 Tip Menjalani Hubungan Jarak Jauh)


Bisa jadi Anda sering mendengar kalimat “Jika Anda sayang anak dan keluarga, tunjukkan rasa sayang Anda dengan fokus mengasuh anak,”. Bagaimana perasaan Anda? Tak perlu merasa kecil hati atau langsung terbawa emosi. 


Pikirkan baik-baik. Pernahkah Anda berpikir jika jerih payah Anda dengan bekerja untuk kebutuhan anak dan keluarga merupakan wujud cinta kasih Anda dengan cara berbeda? Karier dan keluarga dapat berjalan beriringan asalkan Anda memahami celahnya.


Apalagi jika Anda memiliki keluarga atau saudara yang bisa dipercaya untuk membantu menjaga dan mengasuh anak Anda. Meski demikian, bukan berarti Anda menyerahkan 100% tanggung jawab merawat dan mengasuh anak kepada mereka, ya!


QUALITY OVER QUANTITY

Bagi anak-anak dan keluarga, kehadiran Anda yang sebentar namun fokus lebih berarti dibanding sering berada di rumah namun pikiran Anda “berkelana”. Quality over quantity. 



Utamakan kualitas waktu Anda saat bersama keluarga dan anak. Saat bersama keluarga, pusatkan perhatian Anda pada mereka dan dengarkan cerita si Kecil. Dengan demikian anak lebih dapat merasakan kehadiran Anda di rumah. 


Tinggalkan seluruh pekerjaan Anda saat berada di rumah. Jika masih perlu bekerja di rumah, lakukan setelah anak-anak tidur. Ya, semua hal memang butuh pengorbanan. Kali ini Anda harus berkorban tenaga. Untuk itu, jaga stamina Anda ya, Bu!


(Anggia Hapsari, foto: Pexels.com/ Bruce Mars/ Stokpic/ Rawpixel)


Author:

You Might Also LIke