Inilah enam (6) faktor yang membedakan antara manajer dengan ‘manajer’.

Jangan langsung terjebak dengan jabatan seseorang di managerial level. Sebut saja manager, director, hingga vice president merupakan gelar impian hampir seluruh karyawan di muka dunia ini. Bukan sekedar menempel, tugas dan tanggung jawab dari gelar itu seharusnya tidak main-main. 

Sayangnya, kenyataan di lapangan berkata berbeda—khususnya di zaman modern ini. Pengalaman kerja yang kurang, keinginan perusahaan kecil untuk berkembang cepat, hingga minimnya persaingan membuat gelar manajer berpotensi disalahfungsikan. 

Ada 6 faktor yang bisa menunjukkan kredibilitas dan kualitas antara Manajer dengan ‘Manajer’. Ini dia! 




1. Perusahaan Kecil Vs. Perusahaan Besar  

Struktur organisasi minimalis di perusahaan kecil umumnya membuat karyawan mudah naik jabatan karena kurangnya persaingan. Karena keterbatasan modal atau profit yang belum stabil, perusahaan kecil biasanya belum mampu membayar salary manajer sama dengan yang perusahaan besar berikan. Jadi, jika perusahaan kecil bisa membayar seorang yang dirasa bisa menjadi pemimpin divisi dengan salary yang tidak terlalu tinggi, kenapa tidak? 

Sementara itu, biasanya manajer di perusahaan besar tidak bisa dengan mudah mendapatkan sebuah posisi. Ia harus melalui proses uji, penilaian, tes, hingga psikotes lanjutan untuk naik jabatan ke level manajer. Intinya, perusahaan besar tak ingin kredibilitasnya rusak hanya karena salah memilih pemimpin.  


2. Jam Terbang

Belum punya pengalaman kerja lebih dari 2-3 tahun namun sudah berhasil menjadi manajer? Jika tanpa prestasi dan koneksi rasanya sulit. Pengalaman itu membuat seorang pemimpin ‘kaya’ dalam bekerja agar tak salah langkah. Sudah seharusnya mereka lebih cerdas daripada bawahannya. Sama saja seperti seorang ibu yang memiliki satu anak, tentu pengalamannya berbeda dengan ibu dengan tiga orang anak, bukan?  


3. Job Desk

Job desk seorang pemimpin itu bukan mengerjakan semua hal, namun melakukan supervisi akan semua hal. Seorang pemimpin sebaiknya memiliki junior, bawahan, atau anak buah yang bekerja dalam sebuah tim untuk membantunya mencapai apa yang menjadi target perusahaan. Jadi, jangan bangga dulu dengan gelar manajer yang berhasil diraih, jika kemampuan leadership tak terpakai nantinya. 




4. Salary

Salah satu tolak ukur yang membedakan manajer dengan ‘manajer’ adalah pendapatannya. Jika pendapatan dan fasilitas seorang manajer tidak berada pada level yang setara dengan manajer di perusahaan lain yang bidang pekerjaan sama, Anda bisa mempertanyakan hal tersebut. Nilai salary merupakan salah satu cara perusahaan menghargai kinerja karyawannya. Salary pemimpin harusnya sesuai dengan job desk dan tanggung jawab—begitu pula sebaliknya. 


5. Jiwa Leadership

Ini poin terpenting untuk membuktikan kualitas manajer dan ‘manajer’. Seorang manajer wajib memiliki jiwa kepemimpinan atau leadership yang baik. Leadership tumbuh berdasarkan pengalaman—kembali ke poin kedua. Jika seorang manajer pernah menjadi junior atau dipimpin dulunya, tentu akan lebih baik baginya mengatur strategi kerja, mendalami pekerjaan, melakukan supervisi, dan mengelola timnya. Manajer yang baik pun terlihat dari caranya memberikan solusi terhadap setiap masalah yang terjadi—bukan malah lepas tangan atau membuat runyam keadaan. 


6. Hasil dan Prestasi 

Target diraih sesuai KPI, kualitas anak buah meningkat, hingga keuntungan perusahaan tercapai menjadi nilai plus bagi seorang manajer. Prestasi membuktikan kualitas seorang manajer berbeda dengan ‘manajer’. Jangan sampai gelar manajer diraih hanya karena perusahaan belum mendapatkan kandidat yang tepat sehingga Anda dijadikan cadangan saja—daripada membiarkan sebuah divisi tidak berjalan. 

(Saskia Damanik, Images: Berbagai sumber)