Niat baik Anda bisa saja mengakhiri hubungan persahabatan jika 7 hal ini terjadi.

Melalui bukunya, Shakespeare pernah menuliskan ungkapan mengenai pertemanan dan keuangan. Saat itu, kata-kata bijak tersebut diungkapkan oleh tokoh Kepala Konselor Raja Claudius di dalam karya berjudul “Hamlet”. “Neither a borrower nor a lender be. For loan oft loses both itself and friend,” ungkap tokoh bernama Polonius itu.

Jika dipikirkan lebih dalam, ada benarnya kata-kata yang diungkapkannya. Jika Anda menjadi orang yang meminjam, maka resikonya hanya kehilangan teman. Sementara jika Anda meminjamkan, maka uang dan pertemananlah yang menjadi ancaman. Lebih lanjut, meminjamkan uang kepada teman memang memiliki banyak risiko. Berikut rangkuman dari GLITZMEDIA.CO.


Mundurnya Pengembalian

Karena hubungan pertemanan, maka kemungkinan si pengutang mangkir dari waktu yang dijanjikan akan lebih besar. Tidak bermaksud menyepelekan, namun dilansir dari situs Moneycrashes.com, teman atau keluarga yang meminjam uang cenderung menunda pembayaran karena adanya hubungan emosional dengan Anda sebagai peminjam. Anda pun cenderung sungkan untuk menagih, sehingga pembayaran pun mundur dari waktu yang ditentukan.


Utang Tak Dijadikan Prioritas

Hubungan pertemanan yang Anda jalin membuatnya tidak memprioritaskan pengembalian pinjaman terhadap Anda. Teman akan berpikir bahwa Anda tentu mengerti dengan kondisinya, sehingga pengembalian tak lagi menjadi beban. Anda pun akan memprioritaskan pertemanan, sehingga memilih untuk tidak menekannya dalam penagihan pinjaman. Tak hanya itu, seringkali Anda pun menggampangkan saat awal peminjaman sehingga tidak menentukan batas waktu pengembalian. 


Anda Justru Yang Menjadi ‘Peminta-Minta’

Anda yang sibuk mencarinya, menagih uang yang dipinjam, sementara ia lebih sering menghindar—hingga tak memberi kabar. Sebenarnya, tak ada maksud buruk dari yang meminjam. Namun, rasa takut teman bertambah saat tahu ia belum dapat melunasi pinjamannya. Anda yang sibuk menagih dan merasa sudah melewati batas waktu perjanjian mulai merasa dirugikan. Kemungkinan teman untuk menghindari Anda pun semakin melebar.




Uang Menjadi Jalan Pintas

Niat awal Anda memang untuk menolong teman, namun ada saja teman yang menganggap hal ini sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan masalah keuangannya—bukan menuntaskan akar masalahnya. Anda harus cermat ‘membaca’ situasinya untuk mengetahui tujuan dari peminjaman uang. Akan lebih baik Anda membantunya dalam menuntaskan akar masalah keuangan daripada hanya meminjamkannya.


Ia Akan Terbiasa Meminjam

Secara diam-diam, Anda mungkin akan dijadikannya ‘dompet kedua’. Saat ia mengalami masalah serupa, timbul kecenderungan untuk meminjam uang Anda kembali. Tak sedikit loh, teman yang justru meminjam uang lebih besar pada pinjaman kedua dan seterusnya dibandingkan dengan utang pertamanya. Jika hal ini terjadi, Anda harus lebih tegas dalam persoalan pinjam-meminjam dengan teman yang bersangkutan.


Canggung Saat Bertemu Dengannya

Jika si peminjam belum mengembalikan utangnya, maka suasana akan menjadi kurang menyenangkan. Ada rasa tidak enak saat bertemu, baik dari pihak Anda maupun penghutang. Tentu hal ini bisa menimbulkan tanya, jika Anda dan dia bertemu di acara bersama teman-teman lainnya. You know, so many people that have a huge curiousity in this planet, right?


Kehilangan Uang dan Teman

Persis seperti apa yang diungkapkan dalam buku Shakespeare, peminjam seringkali kehilangan uang sekaligus temannya (yang berutang). Adanya rasa kecewa, kesal, dan marah menjadi pemicu merenggangnya hubungan pertemanan. Tak hanya itu, cara menagih yang mungkin dirasa tidak menyenangkan justru bisa membuat teman Anda sengaja untuk tidak mengembalikan uang. Polemik ini seringkali terjadi, sehingga Anda memang perlu berhati-hati saat meminjamkan uang.



Jika Anda berniat membantu meminjamkan sejumlah uang pada teman tanpa mengundang masalah, GLITZMEDIA.CO menyarankan untuk:

  • Cermati situasi dan tujuan dari peminjaman uang tersebut. Sebagai teman tentu sedikit banyak Anda sudah dicurhati problematika keuangan dirinya. Untuk kebutuhan urgent, kadang kala teman menjadi solusi tercepat untuk meminjam uang—daripada harus ke bank. Jadi, tak ada salahnya Anda mencari tahu lebih pasti akan digunakan untuk apa uang tersebut. Tanya langsung pada diri teman agar dia merasa kalau Anda serius membutuhkan tanggung jawabnya. 
  • Karakter teman tentu berbeda-beda. Sebelum meminjamkan uang, pikir ulang bagaimana sifat dan kepribadiannya selama ini. Apakah dia jujur dan sudah cukupkah kepercayaan Anda padanya? Jika ragu-ragu, Anda mungkin bisa menyarankannya meminjam uang pada pihak profesional seperti bank. Ia bisa membayar sesuai dengan komitmen dan perjanjian secara profesional.
  • Sekalipun ini teman baik Anda, lebih baik komunikasi di awal masalah batas waktu pengembalian. Selalu pikirkan risiko terburuk saat meminjamkan uang—yaitu tidak dikembalikan. Jadi cek kondisi keuangan Anda sendiri jangan sampai Anda menyesampingkan kebutuhan utama pribadi demi orang lain. 

We bet you don’t want to ruin your friendship just because you lend the money, do you? So, don’t mix it, Glitzy.

(Shilla Dipo, Images: Corbis)