Agan Harahap pun tak ragu menuangkan karyanya yang sedang dipamerkan di ArtJog di koleksi Purana kali ini.

Durasi baca: 55 detik


Tak cukup dengan hanya menawarkan busana khusus untuk perempuan, kini Purana merambah koleksi uniseks yang dapat digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Untuk mewujudkan koleksinya itu, Nonita Respati, selaku Creative Director, bekolaborasi dengan Agan Harahap.


Agan Harahap dipilih oleh Nonita Respati karena berbagai karya yang dihasilkan Agan dinilai dapat “berbicara” kepada setiap orang, perempuan dan laki-laki. Karya-karyanya pun mudah diminati oleh rentang usia yang panjang: usia muda dan usia matang.

(BACA JUGA: 6 Jenis Pakaian yang Merusak Kesehatan Tubuh)


Kolaborasi tersebut sebenarnya diawali sejak Mei 2020 lalu. Agar sejalan dengan tujuan Nonita dan Agan, Nonita pun perlu merombak ukuran busana agar sesuai untuk ukuran busana uniseks. Ia pun mencari berbagai jenis busana yang kian dicari pada masa pandemi ini.

(BACA JUGA: Koleksi Busana Basic dari Ree)


Akhirnya, mereka pun sepakat untuk menghadirkan busana sederhana seperti jogger pants, pajama pants, dan loungewear lengkap dengan masker. Meski demikian, koleksi uniseks Purana dan Agan Harahap ini pun tetap menawarkan oversized shirt, celana kargo, jaket denim, hingga kimono sebagai outer yang menjadi ciri khas Purana.


Tak mudah untuk menyatukan karya Agan dan Purana. Nonita memerlukan strategi agar harga produksi bisa ditekan dan harga jual menjadi lebih terjangkau. Nonita pun memilih menggunakan teknik cetak dalam format digital yang memperlihatkan karya Agan secara detail. Karya Agan tersebut diaplikasiakan dengan cara patchwork pada beberapa busana. Contohnya jaket denim.

(BACA JUGA: Mencuci Baju untuk Pemula)



Terkait dengan karya Agan yang diaplikasikan pada koleksi Purana, Agan menghadirkan karya bertajuk “New Life, New Hope”. Karya itu sedang dipamerkan di ArtJog Resilience hingga bulan Oktober 2020 mendatang.


Karya itu menampilan tanduk hewan yang ditumbuhi tanaman sebagai simbol metafora tanduk yang kokoh dan keras akan mati pada waktunya. Namun ketika tanduk itu mati, tanduk tersebut dapat menjadi rumah baru bagi kehidupan selanjutnya.


Ini adalah respon terhadap berbagai gejolak dan perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak dalam kehidupan kita selama ini,” jelas Agan.


Info lebih lanjut, terkait dengan pameran di ArtJog, karya yang dihadirkan Agan bukan lagi berbentuk purwarupa gambar digital, melainkan tanduk asli yang dirambati tanaman.

(Anggia Hapsari, foto: instagram.com/ Purana )