Kondisi kontras antara Crocs dan rumah mode yang mengangkat namanya.

Durasi baca: 40 detik


Ketika kejayaan rumah mode Balenciaga melonjak berkat keunikan koleksi alas kaki karet yang kontroversial, Crocs justru mengalami kebangkrutan. Label yang telah berdiri sejak tahun 2002 itu akan menghentikan seluruh proses manufakturnya dan menutup 28 lokasi ritel karena penurunan angka penjualan yang semakin drastis.



(Foto: Wmagazine.com)


Sejak awal tahun 2017, merek asal Colorado Amerika Serikat ini memang telah terancam gulung tikar. Kala itu, Crocs dikabarkan memaksa manajemen menutup 158 toko di seluruh dunia. Kondisi ini sangatlah kontras dengan rasa ketertarikan desainer Christoper Kane dan Demna Gvasalia, yang telah membawa elemen Crocs ke atas panggung Fashion Week. Bahkan, koleksi sandal platform rancangan Gvasalia berhasil laku sekejap melalui sistem pre-order.  



(Foto: Manrepeller.com)


Meski dijuluki sebagai “the ugly shoes”, Crocs memiliki bantalan kaki yang cukup nyaman untuk sehari-hari. Lagi pula, koleksi yang dicitptakan oleh Kane dan Gvasalia tetap menggunakan bahan dasar yang sama, hanya saja dengan tambahan dekorasi dan model yang lebih modern. Sejumlah influencer mode internasional bahkan mengenakan koleksi tersebut dan dengan percaya diri mengunggahnya ke media sosial Instagram. Lalu, mengapa Crocs mengalami kebangkurtan di atas populartiasnya? Anda dapat menilainya sendiri. 


(Kissy Aprilia, Foto: Popsugar.com)