Pakar manufaktur pakaian asal San Fransisco menjelaskan pemaparannya secara lengkap.

Ngaku, deh, siapa di antara Glitzy yang seringkali tak sabar mengenakan pakaian yang baru dibeli hingga belum sempat mencucinya? Jika Anda salah satunya, sebaiknya segera hilangkan kebiasaan tersebut. Sekalipun pakaian dikemas dalam packaging yang bersih dan rapi, namun tidak ada jaminan jika bahan pakaian tersebut bebas dari kotoran dan bakteri yang menempel.   

Pakar manufaktur pakaian dari situs GarmentIndustry411.com—Lana Hogue—menjelaskan bahwa hampir setiap benang atau kain membutuhkan bahan kimia untuk menjadikannya sebuah pakaian yang cantik. Sayangnya, bahan kimia tersebut dapat memberikan efek samping pada tubuh, seperti kontak dermatitis, ruam merah, gatal-gatal, serta iritasi yang muncul pada kulit. 


Bukan hanya itu, alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan pakaian juga dapat memicu risiko negatif terhadap kulit. Hogue menungkapkan bahwa banyak konsumen yang tidak mempercayai pengunaan bahan kimia dalam pembuatan kain. Umumnya proses tersebut dilakukan oleh perusahaan tekstil. 

Kain yang sudah jadi cenderung memiliki kelembapan yang lebih tinggi, sehingga perlu dilakukan tindakan penyemprotan bahan kimia untuk mencegah tumbuhnya jamur.  Bahan kimia juga digunakan untuk membuat warna pakaian terlihat lebih pekat, juga diikutsertakan dalam proses pembuatan serat alami pada bahan 100% katun. 


Setiap negara memiliki aturan yang berbeda terhadap penggunaan bahan kimia untuk tekstil. Meskipun begitu, kandungan yang digunakan dalam proses penjahitan dan pencelupan warna kain tetap memiliki risiko efek samping. Misalnya, bahan pewarna azo-anilin dan resin formaledehida yang paling umum digunakan. Rupanya, bahan pewarna tersebut dapat menyebabkan iritasi pada kulit. 

Lebih lanjut Hogue menjelaskan bahwa formaledehida sebenarnya kategori karsinogen 3 yang merupakan ancaman berbahaya namun di level terendah. Meskipun tidak tinggi tingkatnya, namun efek bahaya dari kandungan tersebut dapat melukai kulit jika dilakukan terus-menerus.

 Saat tubuh mengeluarkan keringat, maka pori-pori pada kulit akan terbuka. Pada saat inilah kotoran dan bakteri pada pakaian dapat dengan mudah masuk ke dalam kulit. Karena hal itu, Hogue menyarankan Anda untuk mencuci pakaian baru apapun itu—busana, kaus kaki, pakaian dalam, stockings, pakaian olahraga, hingga pakaian renang. 

(Kissy Aprilia, Images: Berbagai Sumber)