Stay in The know

Style

Competitive Marriage Syndrome, Sindrom Rasa Iri di Balik Megahnya Pesta Pernikahan

Competitive Marriage Syndrome, Sindrom Rasa Iri di Balik Megahnya Pesta Pernikahan

Cari tahu lebih dalam mengenai Competitive Marriage Syndrome agar tidak mengalaminya jelang pernikahan.

Kaget saat mendengar bahwa salah seorang rekan mengundang hampir 3.000 orang di pesta resepsi pernikahannya—padahal, belum tentu sang mempelai mengenal semua tamu undangan. Saat datang, pesta tersebut pun memiliki dekorasi yang luar biasa megah. Entah berapa dana yang perlu dikeluarkan untuk membuat pesta semeriah itu.

Menurut pengamatan GLITZMEDIA.CO, memang banyak orang yang menggelar pesta pernikahan yang sangat besar. Kemegahan sebuah resepsi seolah menjadi hal yang dilombakan. Kecenderungan ini nyata terjadi dan bukan semata-mata untuk menghormati para tamu, namun seolah ingin berkompetisi memenangkan resepsi pernikahan yang megah. Dalam istilah psikologi, hal ini pun dikenal dengan istilah Competitive Marriage Syndrome.

Competitive Marriage Syndrome (CMS) terjadi ketika orang menginginkan pernikahannya memiliki pesta paling baik dibandingkan dengan pesta orang lain. Bahkan, orang tersebut rela mengeluarkan uang kelewat  banyak—tak jarang pula yang berhutang—demi menyelenggarakan pesta paling megah, lebih daripada yang dilakukan orang lain. Buruknya, hal tersebut seolah menjadi hal yang lebih penting ketimbang cinta dan komitmen mempelai.


Banyak orang yang tak menyadari akan sindrom ini. Untuk menyadari hal ini, lihatlah ciri-cirinya di bawah ini:


Keinginan Memiliki Pesta Paling Baik

Apakah Anda secara diam-diam mengamati pernikahan seorang teman dan memikirkan cara untuk melampaui pesta tersebut? Jika ya, maka Anda telah mengalami CMS. Orang dengan CMS ingin pestanya menjadi yang terbaik. Saat pujian datang pada pesta pernikahan salah seorang teman, ada kecenderungan pada diri Anda untuk tak mau kalah dengan orang tersebut dalam mengadakan pesta pernikahan.


Anggaran Dana Membengkak

Jika Anda ingin melangsungkan pesta pernikahan, coba lihat ke dalam catatan anggaran. Apakah dana tersebut sangat tinggi? Berapa dana yang Anda keluarkan untuk busana pernikahan, dekorasi, gedung, dan sebagainya? Jika dana tersebut sangat membengkak lantaran undangannya pun sangat banyak, CMS bisa menjadi alasannya. Anda ingin pernikahan tersebut terlihat sangat megah di mata semua orang.


Orang Lain Menjadi Alasan

Alasan utama pemilihan gedung bukanlah didasari dengan kapasitas dan jarak, melainkan gengsi terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar. Anda tak ingin pernikahan dilakukan di gedung yang tidak memiliki reputasi eksklusif demi gengsi tertentu. Padahal, Anda bisa saja memotong anggaran dana dengan melangsungkan pernikahan di gedung luas lain yang budgetnya lebih rendah. 


Resepsi Menjadi Lebih Penting Dari Janji Suci

Dalam pernikahan, prosesi pengikatan janji (akad nikah atau pemberkatan) adalah momen yang sebenarnya paling penting. Sayangnya, Anda justru lebih fokus mempersiapkan resepsi pernikahan ketimbang prosesi pengikatan janji. Resepsi pernikahan seperti menjadi ‘senjata’ untuk menujukkan sebuah reputasi dan gengsi hingga mengalahkan kesakralan pernikahan itu sendiri. 


Competitive Marriage Syndrome seringkali tak hanya dialami oleh mempelai, melainkan orangtua dari mempelai. Tak heran jika kondisi ini sepertinya sudah semakin membudaya, tak hanya di Indonesia melainkan di berbagai belahan negara lainnya. Kini, saatnya menyadari fenomena CMS dan mengembalikan kesakralan dari pengikatan janji dalam sebuah pernikahan—bukan semata-mata gemerlap kemewahan resepsinya saja.

(Shilla Dipo, Images: Corbis) 

Author:

You Might Also LIke