Kehadiran Crocs pada show Christopher Kane di London Fashion Week menimbulkan kasak-kusuk di kalangan pecinta mode. 

Peragaan busana Christoper Kane pada London Fashion Week Spring/Summer 2017 kemarin menimbulkan perbincangan di berbagai media. Pasalnya, desainer asal Inggris tersebut menghadirkan koleksi alas kaki yang berbeda dan mengejutkan industri mode.

Jika desainer lainnya menghadirkan koleksi alas kaki musim panas seperti platform sandal dan slipper, Christoper Kane justru mempresentasikan tren alas kaki yang sempat booming di tahun 2005 dari label Crocs. Jenis sepatu berbahan jelly yang memiliki lubang-lubang di bagian depan tersebut dinilai buruk oleh beberapa kalangan hingga dijuluki sebagai “The Ugly Shoes”. Lantas mengapa Christoper Kane kembali mempopulerkannya?

Dilansir dari media Telegraph, desainer asal Skotlandia itu mengaku bahwa dirinya senang bereksplorasi dengan hal-hal yang menantang. Kane selalu ingin mencoba mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Hal itu terlihat dari rancangan Crocs yang dipenuhi oleh motif marmer, warna metalik, hingga embellishment batu garmen dan kristal yang menambah kesan elegan. Menariknya lagi, pasangan alas kaki tersebut bukan dipadukan dengan busana kasual, melainkan dengan berbagai dress yang sophisticated.


“It’s nice to still be in business. It’s been so tough over the past ten years keeping it up. But we actually did really well in the recession, we grew out of that time. [Thinking back] to the wartime reference, in times of bad, the markets might be flat, but that’s the best time to go out and get people’s attention by giving them something new and slapping them round the face a bit,” jelas Christoper Kane.

Kehadiran Crocs dalam peragaan busana Christoper Kane masih menjadi perbincangan. Situs fashion milik Leandra Medine—Man Repeller—mengungkapkan bahwa alas kaki tersebut akan menggantikan tren white sneakers yang tengah popular. Sementara itu, di berbagai media sosial lainnya netizen memberikan pendapat kontra yang tidak menyetujui Crocs sebagai tren high fashion. 


Dunia fashion tidak punya aturan mengikat dan tidak dikhususkan untuk sekelompok orang saja--melainkan universal. Kemahiran pencinta fashion dinilai dari cara mereka memadupadankan busana dan aksesori tak terbatas dari merk atau brand apapun. Urusan pantas atau tidak, sepertinya kembali ke pribadi masing-masing. Bagaimana menurut Anda, Glitzy?

(Kissy Aprilia, Images: Berbagai Sumber)