ads



Stay in The know

Intermezzo

Seperti Inilah Potret Reformasi Indonesia Sekarang di Mata Wanita

Seperti Inilah Potret Reformasi Indonesia Sekarang di Mata Wanita

Tiga wanita dari latar profesi berbeda bicara soal reformasi Indonesia saat ini.

Mungkin, sebagian orang beranggapan bahwa politik adalah hal yang berat untuk dibicarakan. Padahal, hampir semua aspek kehidupan kita tak lepas dari peran serta sentuhan politik. Kali ini, GLITZMEDIA.CO mengajak Anda untuk membicarakan salah satu hal yang dekat dengan sisi politik, yaitu reformasi.

Masih ingatkah Anda dengan apa yang terjadi 18 tahun silam? Rakyat Indonesia berteriak untuk menuntut adanya reformasi dengan mahasiswa sebagai garda terdepannya. Saat itu, rakyat seolah berontak menuntut berbagai perubahan di segala bidang. Penjarahan, aksi mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, serta perlawanan rakyat terjadi di mana-mana. Hal itu kemudian membuat Soeharto memilih turun dari jabatannya. Sejak saat itu pula, negara ini meninggalkan Orde Baru dan beralih menjadi Orde Reformasi hingga saat ini.

Setelah 18 tahun reformasi berlangsung, saatnya menilik sejenak bagaimana potret reformasi—terutama di mata wanita. Tentu, sebagai wanita masa kini, kita perlu melihat sisi ini agar nantinya, reformasi dapat memberikan dampak yang lebih baik untuk kita—para wanita Indonesia. Untuk mengetahuinya, GLITZMEDIA.CO secara eksklusif telah menanyakan dengan 3 wanita dari latar belakang profesi yang berbeda. Seperti apa reformasi di mata wanita? Berikut jawaban ketiganya.


Amanda Hajj (News Anchor)



“Reformasi di Indonesia stuck.”

 “Bagi saya, reformasi di Indonesia pada dasarnya stuck, tidak bergerak. Mungkin penyebabnya adalah idealis yang dulu diteriakkan oleh masyarakat, mahasiswa—sebagai pioneer—serta politisi pada saat itu, kini sudah berubah atau bahkan memudar. Hal ini menyebabkan apa yang dulu diharapkan dengan reformasi ini menjadi hilang begitu saja. 

Menurut saya, banyak faktor yang menyebabkan idealisme ini luntur. Perubahan zaman, sistem yang korup, serta yang paling saya garis bawahi adalah banyaknya kepentingan golongan, membuat reformasi yang terjadi justru tak bertanggung jawab dan berbeda dengan idealis dari mereka yang menyuarakan reformasi.”


 “Reformasi membuat wanita menjadi lebih berdikari, namun...”

“Reformasi memang bukan hanya membicarakan politik, namun juga perubahan dalam pendidikan, sosial, dan semua tatanan yang ada. Jika dikaitkan dengan wanita, memang reformasi memberikan perubahan. Menurut saya, wanita saat ini lebih berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Wanita Indonesia bahkan bisa menduduki posisi teratas dalam suatu struktur baik di dalam dan luar negeri. 

Sayangnya, banyak wanita yang masih berdiam tanpa mengembangkan dirinya untuk menjadi sosok yang lebih. Kembangkan diri semaksimal mungkin dan ikut berkontribusi langsung dalam berbagai aspek menjadi hal yang perlu dilakukan wanita untuk dirinya dengan memanfaatkan reformasi, sekaligus berdedikasi pada negara demi reformasi utuh yang lebih baik.”


“Saya untuk reformasi.”

“Setiap orang, siapapun dia, dapat berkontribusi untuk reformasi. Saya saat ini menjadi wanita di bidang jurnalistik dan kontribusi saya bagi reformasi yang bertanggung jawab adalah memaparkan fakta yang ada tanpa mementingkan kepentingan tertentu. Banyak orang yang berpikir bahwa kontribusi untuk reformasi haruslah langkah besar. Padahal, dengan melakukan hal kecil saja, kita bisa memberikan kontribusi untuk reformasi yang bergerak maju. 

Pesan saya untuk Indonesia, reformasi adalah tanggung jawab semua pihak, semua golongan, namun bukan berarti demi kepentingan golongan. Pemerintah, swasta, masyarakat, serta semua golongan harus bekerjasama untuk mewujurkan perubahan—reformasi yang lebih baik lagi.”


Yenny Sucipto (Sekretaris Jendral Sekretariatan Nasional FITRA—Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran)



“Reformasi tak menunjukkan perubahan.”

“Reformasi itu berarti reform—memformat ulang, mengubah, melakukan perombakan—regulasi untuk Indonesia yang lebih baik. Meski memiliki arti kata demikian, namun nyatanya saya melihat bahwa reformasi yang digembar-gemborkan tak menunjukkan adanya perubahan. 

Mengapa bisa demikian? Alasannya adalah tidak adanya komitmen dari para penyelenggara atau kita kenal dengan sebutan elit politik. Reformasi jelas memiliki visi untuk meletakkan sistem kenegaraan yang sesuai dengan Pancasila. Namun, komitmen yang tidak kuat ini menyebabkan reformasi dapat dikatakan gagal hingga saat ini.”


“Wanita itu subjek, bukan objek.”

“Wanita saat ini menurut saya masih banyak tertinggal, akibat domestikasi baik di pusat maupun daerah. Memang, sekarang wanita mulai banyak mengambil posisi, namun terkadang hal ini hanya normatif saja, bukan peningkatan kualitas. Wanita masih sulit untuk memiliki hak dalam menentukan kebijakan. Hal ini tak lain karena fokus pemerintah adalah menjadikan wanita sebagai objek—bukan subjek politik. 

Sebagai wanita, kita harus menyadari bahwa kita adalah subjek. Keinginan untuk mandiri dan bersuara harus ditingkatkan oleh kita sebagai wanita. Pemerintah pun harus memberi ruang lebih bagi wanita agar melepas ketertinggalan yang masih dialami. Faktanya, hal ini masih terjadi di negeri ini dan kita patut menyadarinya."


“Saya untuk reformasi.”

“Menjadi wanita di dunia politik memang tidak mudah. Karenanya, saya memang perlu menunjukkan kualitas, berani bersuara, sehingga mendapatkan bergaining position dalam menentukan kebijakan politik demi mewujudkan reformasi yang lebih baik. Saya yakin, banyak wanita di luar sana yang memiliki keinginan besar untuk melakukan lebih dan lebih. 

Sayangnya, memang pemerintah belum menyediakan ruang yang cukup bagi wanita untuk bergerak dengan lebih baik. Jadi pesan saya, semua wanita memang harus saling bergandeng tangan, menunjukan bahwa kita mampu dan bisa, sehingga pemerintah memberi ruang dan posisi wanita dalam reformasi pun tak terpinggirkan.”


Vianni Puspitasari (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran)



“Reformasi berjalan secara nyata, namun belum optimal.”

“Reformasi adalah upaya membentuk kembali segala sesuatu yang tidak tepat, dan penuh penyalahgunaan, dengan perbaikan dalam pemikiran, prosedur, dan karakteristik yang membangun. Secara prosedural, proses reformasi telah dijalankan secara nyata oleh pemerintah dan didukung oleh rakyat, tetapi dalam hakikatnya belum optimal. 

Proses reformasi yang jelas terlihat hanya terjadi pada tataran politis, seperti pemilu untuk memilih wakil rakyat hingga eksekutif—baik di level daerah maupun pusat. Namun, itu hanya dalam prosedur dan tata laku saja, tidak dalam ruh untuk melakukan perubahan demi mewujudkan kebaikan bagi semua pihak. Kerjasama untuk mencapai reformasi ini tak akan berarti tanpa didasari oleh landasan yang ideal dan disetujui bersama semua pihak.”


“Reformasi berperan bagi wanita, sayangnya tak dimanfaatkan dengan baik.”

“Peran reformasi sungguh sangat besar bagi peningkatan citra dan peran wanita di masa kini. Kesempatan yang sangat luas tersedia bagi kaum wanita dalam segala bidang. Kesetaraan gender pun semakin diakui dan dihargai secara formal oleh negara dan kemudian diikuti oleh masyarakat. 

Hanya saja, kesempatan ini tampaknya tidak dimanfaatkan sungguh-sungguh oleh sebagian kaum wanita untuk berpartisipasi dalam perbaikan sistem yang ada. Masih ada di antara kaum wanita yang secara verbal meneriakkan kesetaraan gender namun berperilaku kejam terhadap sesamanya. Tak jarang, mereka ingin bebas berekspresi dalam segala hal namun tidak mau menanggung akibat dari kebebasan itu.”


“Saya untuk reformasi.”

“Saya selalu berkomitmen untuk dapat berpartisipasi dalam menyukseskan reformasi melalui tri dharma perguruan tinggi dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, hingga pengabdian pada masyarakat. Memeringati Hari Peringatan Reformasi Indonesia, saya berharap kita dapat semakin memperbaiki diri untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik secara fisik maupun mental. 

Kesuksesan merupakan hasil dari perjalanan proses. Untuk dapat meraih reformasi yang hakiki, kita tidak hanya memerlukan niat baik dan kerja keras serta harmoni saja, namun andasan ideal yang luhur sebagai pedoman arah ke mana kita akan membawa reformasi Indonesia.”


Glitzy, reformasi bukanlah hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan kita, masyarakat Indonesia—pria dan wanita. Saatnya memberi kontribusi lebih dengan senantiasa berkomitmen untuk menjalankan perubahan yang baik dari segala bidang—sesuai dengan profesi Anda—demi reformasi yang menyeluruh. Selamat Hari Reformasi, Indonesia.

(Shilla Dipo, Images: Pixabay, Dok. Pribadi)

You Might Also LIke