Stay in The know

Intermezzo

Mengenal Sosok Louis Braille, Pencipta Huruf Braille untuk Tunanetra

Mengenal Sosok Louis Braille, Pencipta Huruf Braille untuk Tunanetra

Louis Braille adalah anak berusia sepuluh tahun asal Prancis yang jadi penyelamat tunanetra di seluruh dunia

Durasi baca: 1 menit.


Tanggal 4 Januari diperingati sebagai Hari Braille. Braille adalah susunan titik yang dianggap sebagai huruf bagi para penyandang tunanetra. Namun tahukah Anda bahwa ternyata huruf braille diciptakan oleh seorang anak berusia sepuluh tahun? Louis Braille, adalah seorang anak asal Prancis yang mengalami gangguan penglihatan pada usia lima tahun.


Hal ini berawal saat ia berusia tiga tahun, Ayah Louis yang bernama Simon-Rene Baille adalah seorang pelana. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembuat alat-alat yang berhubungan dengan pacuan kuda. Suatu hari, kedua mata Louis tertusuk jarum yang biasa digunakan Ayahnya untuk membuat lubang pada bahan kulit.

(BACA JUGA: Beginilah Cara Anak-Anak Menerangkan Warna Pada Penderita Tunanetra)


Kedua mata Louis mengalami infeksi dan akhirnya mengalami kebutaan permanen. Namun semangat orangtua Louis begitu tinggi. Meski mengalami kebutaan, Louis tetap menjalani pendidikan dengan pergi ke sekolah khusus tunanetra. Berkat ketekunannya, Louis berhasil mendapat beasiswa dari Institut Nasional untuk Kaum Muda Tunanetra di Paris.


Sebagian besar guru di sekolah ini menggunakan metode berbicara saat mengajar. Sebetulnya di perpustakaan ada banyak buku untuk tunanetra, namun huruf-hurufnya terbilang sulit dibaca. Hingga akhirnya pada tahun 1821, seorang mantan tentara bernama Charles Barbier datang ke sekolah tersebut dan berbagi soal metode night writing.




Yakni, sebuah metode berbagi informasi lewat 12 titik yang dirangkai menjadi sebuah kalimat. Huruf ini biasa digunakan oleh tentara sebagai sandi untuk berbagi informasi perang. Sayangnya, 12 titik ini masih terbilang sulit untuk digunakan oleh tunanetra. Louis yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, kemudian memangkas 12 titik karya Barbier ini menjadi enam titik saja.


Lebih tepatnya, Louis menciptakan enam titik timbul dengan tiga titik berbaris ke bawah dan dibagi menjadi dua kolom. Titik-titik timbul tersebut kemudian berkembang menjadi tanda baca, hingga akhirnya terciptalah sekitar 64 simbol yang bisa digunakan oleh para tunanetra. Pada usia 15 tahun, Louis meluncurkan buku pertamanya.


Dalam buku tersebut, Louis menambahkan simbol untuk matematika dan musik. Berkat penemuan Louis, para tunanetra di seluruh dunia kini dapat membaca, menghitung, dan belajar musik. Karena jasanya yang begitu besar, huruf ini kemudian diberi nama huruf braille yang diambil dari nama belakang Louis yakni Louis Braille.




(Andiasti Ajani, foto: unsplash.com/ryoji iwata, utahpeoplespost.com, investors.com)

You Might Also LIke