×

Stay in The know

Intermezzo

Sambut Hari Pendidikan, Para Guru Ini Angkat Suara Mengenai Perkembangan Edukasi di Indonesia

Sambut Hari Pendidikan, Para Guru Ini Angkat Suara Mengenai Perkembangan Edukasi di Indonesia
Saskia Damanik

Sun, 1 May 2016 at 00.02

Tiga pejuang di dunia pendidikan ini mengungkapkan pemikirannya mengenai perkembangan edukasi di tanah air tercinta.

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah ‘dosa’ setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini.“ – Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kabinet Kerja

Survei terakhir yang dilakukan oleh Political and Economic Risk Consultant (PERC) mengatakan jika pendidikan di Indonesia ada di urutan kedua belas dari 12 negara di Asia—posisi terbawah. Miris mendengarnya. Namun, harapan baik itu selalu ada. 

Kemajuan sebuah bangsa dan negara berawal dari pendidikan manusia di dalamnya. Melihat survei di atas, masalah pendidikan merupakan konsentrasi besar untuk negara kita. Pendidikan itu luas, tak hanya sebatas pelajaran di bangku sekolah saja. Membaca, menulis, berhitung, diikuti pendidikan non akademis seperti moral dan etiket menjadi dasar penting yang wajib dimiliki semua lapisan masyarakat. 

Tepat di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016, GLITZMEDIA.CO mengajak 3 orang guru—Shenna Christy, Raissa Hoven, serta Djurna Hayati—untuk berbicara soal pendidikan di Indonesia. Berikut ungkapan pemikiran ketiganya.


Bagaimana Pendidikan di Indonesia Saat Ini Menurut Kacamata Anda?

Djurna Hayati, Guru SMK Negeri

“Saat ini pendidikan sudah jauh lebih maju dibandingkan dulu. Apalagi, kini anak-anak sudah bisa mendapatkan pendidikan gratis. Saya rasa tingkat kepedulian pemerintah akan dunia pendidikan sudah semakin jauh berkembang, dibandingkan saat saya mengawali profesi sebagai pengajar pada tahun 1981 dulu. Tak hanya itu, secara sarana, prasarana, hingga masalah finansial pun sudah diberikan dengan lebih baik oleh pemerintah, sehingga proses belajar mengajar pun dapat ditingkatkan.”



Shenna Christy, Guru Pre-School

“Kebetulan ayah saya juga bekerja di pendidikan. Beliau bilang, sebenarnya di Indonesia aturan mengenai pendidikan sudah jelas, mulai dari kurikulum hingga pengadaan sarana dan prasarana. Namun, seringkali kebijakan ini berubah-ubah tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan guru sebagai pekerja lapangan. Meskipun ada kendala di masalah kebijakan, saya yakin Indonesia masih bisa mencetak generasi muda dengan mental yang bagus. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang ikut mendaftar di Indonesia Mengajar—program pendidikan yang diprakarsai oleh Anis Baswedan. Program ini dapat mencetak ribuan orang untuk turut membangun pendidikan di Indonesia. Karena itu, saya optimis.”


Raissa Hoven, Guru Kontrak (Honorer)

“Dunia pendidikan di Indonesia buat saya masih memiliki beberapa kendala berkaitan dengan mutu pendidikan. Ada satu masalah yang masih tetap mengganjal buat saya sejak masih sekolah sampai saat ini menjadi pengajar, yaitu guru. Banyak sekali guru yang mengajar masih menggunakan cara tradisional atau kovensional, padahal sekarang ini anak-anak yang diajar sudah sangat digital. Kadang saya berpikir, guru-guru yang seperti itu seolah hanya formalitas dalam mengajar sehingga tak mau repot-repot mengubah atau mengembangkan cara pengajaran. Memang tidak semua, tapi ada dan cukup banyak.”


Apa Kontribusi Anda Dalam Dunia Pendidikan?

Djurna Hayati

“Saya sudah hampir memasuki ujung dari masa bakti saya sebagai pengajar. Meskipun begitu, setiap ada penataran maupun cara pengajaran yang baru, saya tetap berusaha mengikuti perkembangan cara pendidikan tersebut. Saya pun biasanya menanamkan kepada guru-guru yang masih muda untuk fokus tak hanya dengan mengajarkan materi pelajaran, namun juga pendidikan secara utuh agar dapat membentuk karakter peserta didik yang lebih baik. Bagi saya, karakter siswa sangatlah penting. Sekarang, banyak sekali siswa yang sepertinya tidak mengenal sopan santun dan inilah yang masih menjadi PR bagi saya. Ini yang sedang saya kerjakan sebelum pensiun di awal 2017 nanti.”


Shenna Christy

“Karena saya mengajar anak-anak pre-school—usia 3 – 6 tahun—jadi lebih kepada dasar pendidikan lah yang saya terapkan pada mereka. Belajar tentu menjadi dasar utama dari sekolah, namun ada hal yang aku tanamkan di pribadi mereka, yaitu moral. Saya selalu menanamkan pemahaman diri pada mereka, ‘siapa saya’. Mereka harus mampu menempatkan diri, mengetahui bahwa mereka bisa melakukan sesuatu dari lingkup terkecilnya, yaitu keluarga. Saya pun meminta orangtua untuk selalu memantau pola tingkah laku anak agar apa yang diajarkan di sekolah tidak sia-sia dan dilanjutkan di rumah.”



Raissa Hoven

“Saya mencoba sharing pengalaman saya semasa sekolah hingga kuliah. Saya mengajar dengan mengingat kembali apa yang dulu saya inginkan sebagai siswa ketika diberi materi pelajaran. Kebetulan, saya mengambil konsentrasi seni pertunjukan komunikasi untuk program S1 saya, sehingga saat ini saya pun memberikan semua pengetahuan saya dengan menjadi guru seni drama di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Saya memahami bahwa seni menjadi bagian penting dalam pengembangan diri mereka. Jadi pendidikan memang selayaknya tak hanya fokus pada akademis saja, namun juga non-akademis.”


Apa Harapan Anda Untuk Pendidikan di Indonesia?

Djurna Hayati

“Sejak saya mengejar hingga saat ini, saya belum melihat adanya pemerataan pendidikan. Padahal, sumber daya manusia Indonesia banyak dan bangsa ini memiliki potensi untuk maju, jika pendidikan diperbaiki. Saya berharap sekali pemerintah memprioritaskan pendidikan di urutan nomor satu, karena ini dasar dari sebuah bangsa. Memang, manfaatnya tak bisa langsung dirasakan, namun pendidikan ini akan dirasakan 10 – 20 tahun mendatang. Ini yang perlu menjadi perhatian. Jika tak mulai dari saat ini, lalu kapan negara ini siap untuk maju?”


Shenna Christy

“Saat ini saya tengah mengajar di sekolah internasional berbasis cara pengajaran Montesori. Saya senang dengan metode pengajaran tersebut dan ingin menanamkan metode yang sama untuk sekolah-sekolah lainnya namun dengan biaya yang lebih murah. Tujuannya hanya satu, meratakan pendidikan di Indonesia.”


Raissa Hoven

“Secara pribadi, saya punya cita-cita mau mendirikan sebuah sekolah, yang merekrut tenaga pengajar berkompeten dalam bidangnya. Sebenarnya, saya ingin fokus pada pengajar muda agar masih memiliki antusiasme dan semangat yg tinggi, inovatif, dan juga aktif. Pelatihan guru juga menjadi perhatian utama sekolah yg saya cita-citakan. Saya juga lihat banyak sekolah yang terlalu 'memanjakan' anaknya, seolah takut kehilangan murid, sehingga terkadang keadilan tidak ditegakan. Hal tersebut adalah fokus utama saya dalam membangun sekolah saya sendiri nantinya.”



Apa Pesan Anda Untuk Masyarakat Terkait Pendidikan?

Djurna Hayati

“Jangan hanya mengangkat sisi akademis di segala bidang, namun dasar keimanan dan ketakwaan—sesuai dengan agama masing-masing—menjadi hal yang paling penting. Jadi, guru dan masyarakat harus menunjukkan hal yang sama, yaitu menguatkan dasar dari semua pendidikan, yaitu agama. Jika setiap anak beragama, maka pasti ilmu yang didapat akan bermanfaat bagi banyak orang. Mereka akan tumbuh menjadi manusia yang berguna serta menghindari sifat pelit ilmu ataupun serakah. Ini adalah tugas bersama, baik di jajaran keluarga, sekolah, hingga masyarakat pada umumnya.”


Shenna Christy

“Meskipun guru terkesan menjadi pendidik bagi anak, namun sebenarnya pendidikan pertama itu datang dari keluarga. Jadi percuma, jika di sekolah sudah diterapkan nilai-nilai moral, sosial, hingga nasionalisme, namun tidak diajarkan di rumah. Semua orang harus sama-sama membangun pendidikan, caranya dengan mencontohkan hal-hal baik. Contoh kecil deh, dari mulai membuang sampah pada tempatnya, menaati aturan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal kecil sehari-hari ini yang harus dibenahi sehingga anak-anak pun tumbuh menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab, disiplin, tidak memikirkan diri sendiri, dan sebagainya.”


Raissa Hoven

“Sebagai warga Indonesia, kita wajib mendukung dan berusaha untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Sebagai orangtua, hendaknya perlu memerhatikan dan mendidik anaknya dengan lebih serius. Saya paham di era seperti ini memang sulit untuk memiliki banyak waktu dengan anak, namun bagaimanapun juga, rumah adalah sentral pendidikan anak. Saya harap orangtua bisa bersikap lebih objektif demi membangun karakter anak. Percaya atau tidak, di zaman sekarang seringkali orangtua sangat membela anaknya walaupun salah. Hal seperti ini akan membuat anak merasa selalu dibenarkan dan akan bertindak semakin sesuka hati. Di sisi lain, kejadian seperti di atas terkadang membuat pihak sekolah atau pun guru tak berani lagi utk 'menyentuh' anak tersebut. Intinya, sekolah dan keluarga harus bekerjasama dalam mendidik anak-anak demi perkembangan moral mereka.”


Sekolah dan pemerintah bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab akan pendidikan di tanah air Indonesia. Keluarga dan masyarakat juga turut andil memerhatikan edukasi generasi muda menuju kesuksesan sebuah bangsa. Lalu, apakah kontribusi yang bisa Anda berikan dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia?

(Shilla Dipo, Images: Dok. Pribadi, Corbis)

You Might Also LIke