ads



Stay in The know

Intermezzo

Perubahan Wajah Mading di Era Digital

Perubahan Wajah Mading di Era Digital

Seiring dengan perubahan zaman, mading pun berganti wajah ke ranah digital.

Durasi baca 1 menit. 


Jika Anda bernostalgia ke era Anda masih duduk di bangku sekolah, Anda tentu akrab dengan Majalah Dinding atau Mading. Mulai dari Mading bentuk 2D hingga Mading bentuk 3D, Mading dibuat sedemikian rupa menarik dengan berbagai bahan dan tema.

(BACA JUGA: Bagaimana Cara Menumbuhkan Kemauan Anak Agar Giat Belajar Tanpa Terpaksa)



Ada berbagai bahan yang sering digunakan saat membuat Mading. Yang paling sering digunakan adalah kertas karena mudah dibentuk, dihias, dan dikreasikan. Namun, penggunaan bahan-bahan ini perlu dipertimbangkan oleh si pembuat Mading, karena Mading perlu diturunkan dan didaur ulang ketika masa penayangannya sudah berakhir. Sangat disayangkan bila di sisi lain Mading memiliki dampak buruk untuk lingkungan.


(Foto: BPK Penabur)


Itulah sebabnya, menurut Oktora Irahadi selaku Inisiator Proram MadingSekolah.ID, Mading konvensional perlu bergerak bersama dengan lajunya era digital. Mading dengan penggunaan bahan berupa kertas, triplek, atau styrofoam yang dipajang di dinding perlu diubah formatnya dalam Mading online tanpa penggunaan kertas sedikitpun.


TIDAK HANYA UNTUK KALANGAN SENDIRI

Selain meminimalkan penggunaan kertas, jangkauan informasi yang dimuat dalam Mading yang dibuat dalam format online pun menjadi lebih luas. Suatu karya Mading yang telah diunggah di dunia maya akan abadi, Mading hijau tanpa kertas, dapat dicari kembali, dan mudah diakses.


Bayangkan jika Mading suatu sekolah tidak hanya dapat dilihat oleh murid di satu sekolah saja namun dapat dibaca oleh seluruh siswa sekolah dan komunitas baru di Tanah Air. Anak tentu akan semakin terpacu untuk berpikir kreatif sambil didukung oleh guru dan Anda sendiri.  Hal ini membuat MadingSekolah.Id dapat dijadikan sarana sebagai wadah baru pengganti majalah dinding konvensional.


MadingSekolah.id memberikan wadah bekreasi bagi seluruh pelajar di Indonesia. Di sini, seluruh pelajar dapat memasukkan konten kreatif dalam rupa artikel, desain, animasi, fotografi, hingga video,” ujar Oktora 


Lebih lanjut agar MadingSekolah.id akan dikenal sebagai Madol agar dapat lebih mudah diingat dan akrab dengan siswa sekolah.


MadingSekolah.id bekerjasama dengan Google, Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, dan Ruang Guru untuk mendukung kreativitas seluruh siswa sekolah dan guru di Indonesia. Tujuannya agar mereka dapat menjadi Content Creator yang jeli dan kreatif, sekaligus memberikan wadah untuk ruang belajar dan ruang gerak yang positif,” lanjutnya.


Untuk mencapai tujuan tersebut, MadingSekolah.id pun akan berbagi ilmu mulai dari ilmu fotografi, jurnalistik, video, hingga marketing ke beberapa sekolah di 10 kota besar di Indonesia dengan membawa berbagai kreator muda dari Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, dan Ruang Guru mulai dari pertengahan Maret hingga akhir tahun 2019.


MADING YANG USER FRIENDLY

MadingSekolah.id yang secara resmi diluncurkan pada bulan Maret 2019 nanti merupakan Majalah Dinding versi online yang disajikan dalam format Social Media. Setiap sekolah dapat memiliki sebuah akun pada MadingSekolah.id. Di dalam MadingSekolah.id, setiap siswa dan guru yang terdaftar dapat bebas berkreasi memasukkan konten, kemudian menata dan menyesuaikannya menggunakan fitur-fitur yang telah tersedia. 

(BACA JUGA: Anak Sering Membawa Tugas Sekolah ke Rumah ini Dampaknya)



Berbagai fitur yang ada di dalam MadingSekolah.id sangat mudah digunakan. Semua siswa yang terdaftar dapat mengedit konten yang telah diunggah jika dirasa ada informasi yang perlu ditambahkan, termasuk mengubah tata letaknya kapan saja melalui laptop atau smartphone.


 (Ratih Dwiningtyas, foto: Pexels.com/ Andre Furtado, Rebecca Zaal)


You Might Also LIke