Padahal, meliburkan sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan jumlah risiko penularan virus corona.

Durasi baca: 1 menit.


Mulai hari ini, hampir seluruh institusi mulai dari karier dan pendidikan, sudah menerapkan peraturan study from home serta work from home. Alias melakukan seluruh kegiatan belajar dan bekerja dari rumah. Peraturan ini dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah, guna menekan angka penularan virus corona.


Sayangnya, peraturan ini justru disalahartikan oleh sebagian orang. Terutama para orangtua, yang malah mengajak anak-anak mereka berlibur ke luar kota, hingga melakukan aksi protes soal liburnya sekolah ini.


Para orangtua menganggap kebijakan yang dilakukan pemerintah soal anak belajar di rumah sangat tidak efektif. Mereka merasa, anak-anak seharusnya tetap masuk sekolah namun diberi wawasan tentang cara menjaga kesehatan dan kebersihan, supaya terhindar dari risiko penularan virus corona.


Terkait dengan hal tersebut, pagi ini Kompas TV melakukan wawancara via telepon dengan Retno Listiyarti selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Retno mengatakan sangat menyayangkan bahwa ternyata masih banyak orang tidak mengerti. Betapa krusialnya urusan penyebaran virus corona ini.

(BACA JUGA: Sulit Menemukan Masker Anti Debu dan Hand Sanitizer? Buat Saja Sendiri!)




Ia mengungkapkan kekecewaan karena pada faktanya, banyak orangtua belum teredukasi dengan baik soal apa itu virus corona dan bagaimana cara ia menyebar.


“Penyebaran virus corona itu cepat sekali, salah satunya lewat kontak fisik atau kontak sosial. Maka dari itu pemerintah mengeluarkan peraturan belajar dan bekerja dari rumah, supaya masyarakat bisa mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Hal ini dilakukan guna menekan jumlah risiko penularan virus corona itu sendiri,” tutur Retno.


"Saya juga menerima banyak keluhan dari para orangtua yang menyayangkan sikap pemerintah, karena meliburkan sekolah anak-anaknya. Sikap ini membuat saya terkejut, karena ternyata masih banyak orangtua tidak paham soal virus corona dan cara penularannya."


Sementara itu dalam wawancara berbeda, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengaku sangat mendukung kebijakan pemerintah daerah yang meliburkan sekolah serta menunda pelaksanaan Ujian Nasional (UN), guna menghindari penularan virus corona.


Salah satu bentuk dukungan Nadiem terhadap sistem belajar dari rumah ini adalah dengan mengembangkan aplikasi bernama Rumah Belajar yang bisa diakses di belajar.kemendikbud.go.id. Aplikasi ini memiliki banyak fitur unggulan yang bisa diakses oleh murid hingga para pengajar.


Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai murid-murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Aplikasi ini bisa diakses di smartphone android maupun komputer atau laptop.


(Andiasti Ajani, foto: unsplash.com/rio lecatompessy, straitstimes.com)