×

Stay in The know

Intermezzo

RUU Permusikan Hingga Larangan Putar, Ada Apa dengan Indonesia?

RUU Permusikan Hingga Larangan Putar, Ada Apa dengan Indonesia?
Asti Ajani

Sat, 2 March 2019 at 08.01


Belum usai dan ketuk palu masalah RUU Permusikan, muncul satu masalah baru dari Pemerintah Jawa Barat terkait larangan memutar beberapa lagu asing. Melalui chat group wartawan hiburan di aplikasi Whatsapp, tersebar sebuah foto yang memperlihatkan beberapa daftar lagu asing yang dinilai bermasalah.


Lagu-lagu tersebut di antaranya adalah “Versace on the Floor” dan “That’s What I Like” milik Bruno Mars, “Shape of You” Ed Sheeran, “Makes Me Wonder” Maroon 5, “Love Me Harder” Ariana Grande, “Overdose” Chris Brown dan Agnez Mo, hingga “Your Song” Rita Ora.


Alasan Pemerintah Jawa Barat, dalam hal ini adalah Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat (disingkat KPID Jabar), adalah karena lagu-lagu tersebut mengandung unsur dewasa. Yakni seksual dan perilaku cabul. Sehingga pihak KPID Jabar khawatir lagu-lagu tersebut akan memberi dampak negatif pada anak-anak meskipun berbahasa Inggris.


Sebetulnya televisi dan radio di Jawa Barat boleh memutarkan lagu-lagu tersebut, tetapi hanya di jam-jam tertentu. Yakni pukul 22.00 hingga 03.00 dini hari. Namun kebijakan ini hanya berlaku di saluran televisi dan radio. Tidak berlaku untuk platform lain seperti Youtube, Spotify, iTunes, dan lain sebagainya.


Kabar larangan putar ini ternyata sampai ke telinga salah satu musisi yakni Bruno Mars. Lewat akun Twitternya, musisi bernama asli Peter Gene Hernandez mengungkapkan kekecewaannya ketika mendengar bahwa dua lagunya masuk dalam daftar lagu larang putar di Jawa Barat.


“Lagu-laguku terkenal di Indonesia. Lalu tiba-tiba @edsheeran dengan lirik-liriknya cabul lalu membuat kami semua menerima ganjarannya. Terima kasih Ed, terima kasih banyak!” tulisnya di salah satu cuitan.


Banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat sebetulnya paham dan mengerti dengan maksud dari KPID Jabar. Tetapi zaman sekarang, menerapkan larangan-larangan semacam ini tidak lagi efektif. Ditambah lagu tersebut merupakan lagu bahasa Inggris, sehingga banyak masyarakat yakin banyak anak-anak yang tidak mengerti artinya.


Menjaga telinga dan mata anak-anak dari lagu atau tontonan tidak pantas (tidak sesuai usianya) merupakan tanggung jawab lingkungan prenatalnya dalam hal ini adalah orangtua. Para orangtua yang seharusnya memiliki peran lebih untuk membatasi apa saja yang boleh ditonton dan didengar oleh anak-anaknya.




(Andiasti Ajani, foto: unsplash.com/chaz mcgregor, dokumentasi istimew)
  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke