Mayoritas negara yang melarang perayaan Natal adalah negara Islam.


Natal yang berarti kelahiran dalam bahasa Portugis, adalah hari di mana seluruh umat Kristiani dari seluruh dunia merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Semua umat Kristiani akan pergi ke gereja untuk melaksanakan kebaktian di malam tanggal 24 Desember dan kembali kebaktian di pagi hari tanggal 25 Desember.


Hampir di semua negara saat hari Natal segera tiba, pernak-pernak seperti hiasan dan lampu hingga pohon Natal sudah pasti akan menghiasi berbagai sudut ruangan. Mulai dari mal, rumah, kantor, TOSERBA, dan lain sebagainya.

Terlepas dari toleransi beragama yang terjadi di setiap negara, ternyata masih ada beberapa negara yang melarang perayaan Natal. Kira-kira negara apa saja? Ini dia!

(BACA JUGA: 5 Rekomendasi Film Natal yang Wajib Ditonton)




BRUNEI DARUSSALAM

Negara pertama yang melarang perayaan Natal adalah Brunei Darussalam. Pada tahun 2014, Kementerian Agama Brunei Darussalam menetapkan peraturan soal pelarangan perayaan Natal.


Peraturan tersebut menyebutkan, bahwa tempat usaha, restoran, dan rumah makan yang dimiliki oleh warga muslim dan non muslim tidak boleh dihiasi oleh dekorasi Natal maupun berpakaian seperti Santa Claus.


Meski begitu warga tetap boleh merayakan Natal, hanya saja tidak di tempat umum. Mereka boleh menghiasi rumah dan tempat ibadah mereka dengan pernak-pernik Natal. Bila ada warga muslim yang ingin merayakan Natal juga tidak dilarang. Hanya saja, harus dilakukan secara pribadi.


KOREA UTARA

Negara kedua yang juga melarang perayaan Natal adalah Korea Utara. Pemerintah Korea Utara mengontrol dengan ketat segala sesuatu yang ada di negara tersebut. Termasuk perayaan hari besar agama dan libur atau tanggal merah. Tercatat di Korea Utara hampir tidak pernah ada tanggal merah, kecuali hari ulang tahun pemimpin Korea Utara.


Korea Utara sebetulnya tidak melarang warganya untuk memeluk agama tertentu. Mereka diberi kebebasan penuh untuk memeluk agama yang diyakini. Namun bila ada warga yang tertangkap basah merayakan Natal maka akan dijebloskan ke penjara


Tapi entah apakah sekarang peraturan ini masih berlaku atau tidak. Bahkan dulu, Korea Utara seringkali menyampaikan kecaman pada Korea Selatan karena membangun pohon Natal besar di dekat perbatasan.


SOMALIA

Negara terakhir yang juga melarang perayaan Natal adalah Somalia. Direktur Kementerian Agama Somalia beralasan bahwa perayaan Natal tidak berkaitan dengan Islam. Namun alasan ini diungkapkan karena Kementerian Agama Somalia yakin bahwa seluruh warganya adalah umat Islam. Sehingga tidak pas jika ada perayaan Natal di negara tersebut.

Selain itu, peraturan dilarang merayakan Natal juga sengaja diterapkan oleh Somalia untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi di negara tersebut. Terutama soal kemarahan dan serangan dari militan Islam bernama Al Shabaab.


ARAB SAUDI

Tidak hanya Brunei Darussalam, negara Islam lainnya yakni Arab Saudi juga melarang warganya untuk merayakan Natal secara terbuka. Meski begitu, Arab Saudi sama sekali tidak melarang warganya untuk merayakan Natal atau hari-hari besar agama lainnya. Hanya saja tidak boleh dilakukan secara terbuka. Termasuk menghias rumah atau tempat ibadah mereka dengan pernak-pernik Natal.




(Andiasti Ajani, foto: telemundo.com, portbangi.com, onthemarktefl.com)