Nyle DiMarco menceritakan pengalamannya.

Durasi baca: 50 detik.


Dunia hiburan berlomba-lomba mengangkat keberagaman di berbagai celah. Seperti serial The Good Doctor yang memekerjakan penderita autisme hingga warna pelangi yang menyelimuti panggung runway Burberry. Namun satu hal yang mereka lupakan, khususnya di industri film. Hal tersebut adalah menjadikan subtitle sebagai standar penampilan film. Nyle DiMarco angkat bicara akan pentingnya subtitle saat penanyangan film.


Nyle DiMarco adalah pemenang American Next Top Model ke-22. Ia adalah penyandang tunarungu sejak lahir sehingga hanya mengerti bahasa isyarat dan membaca gerakan mulut saat berkomunikasi. Setelah lima tahun tidak pernah menginjakkan kakinya di bioskop, ia akhirnya memutuskan melihat salah satu film box office, Black Panther.


Saat membeli dan menerima tiketnya, Nyle mengatakan bahwa dia adalah seorang tunarungu dan menanyakan apakah bioskop memiliki alat untuk membantunya menikmati film tersebut. Pengelola bisokop lalu meletakkan sebuah alat berlengan panjang dengan layar hitam bernama Captiview. Konteksnya, bioskop di Amerika Serikat tidak memiliki subtitle seperti di Indonesia. Layar hitam berperan sebagai penyedia subtitle



(Foto: Universaldesignstyle.com)


Nyle nampaknya kurang beruntung. Captiview yang ia dapatkan tidak dapat diubah posisinya dengan mudah. Ia terpaksa bertahan di posisi duduk yang tidak nyaman untuk dapat melihat tulisan yang tersaji di Captiview saat film berlangsung. Ia sempat menikmati kecanggihan Captiview tersebut dalam beberapa saat sebelum menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.