×

Stay in The know

Intermezzo

Mengenal Frederich Silaban, Arsitek di Balik Megahnya Masjid Istiqlal

Mengenal Frederich Silaban, Arsitek di Balik Megahnya Masjid Istiqlal
Andiasti Ajani

Wed, 22 May 2019 at 12.03

Frederich Silaban adalah arsitek asal Sumatera Utara yang menganut agama Kristen Protestan

Durasi baca: 1 menit.


Selain Monumen Nasional (Monas), kita tahu bahwa di Jakarta ada banyak bangunan bersejarah yang juga menjadi saksi perjalanan dan perkembangan Ibukota ini. Salah satunya adalah masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal adalah rumah ibadah umat Muslim yang juga masjid nasional negara Republik Indonesia.


Masjid Istiqlal berdiri di lokasi yang dulunya adalah taman Wihelmina (nama Ratu Belanda). Masjid Istiqlal sendiri merupakan salah satu bangunan penting yang pernah digagas oleh Presiden Soekarno. Masjid Istiqlal terletak di timur laut lapangan Medan Merdeka, alias area Monas.


Sedangkan di sisi lainnya, berdiri tegak Gereja Katedral. Konon katanya, Monumen Nasional adalah simbol perempuan dan laki-laki yang diterjemahkan sebagai keseimbangan. Itulah mengapa, Bung Karno ingin Monas diapit oleh dua rumah ibadah yang merupakan agama mayoritas rakyat Indonesia.


Tujuannya adalah untuk menciptakan keselarasan dan keseimbangan antar umat beragama, sehingga mampu menjalankan nilai-nilai pancasila dengan baik. Bicara soal masjid Istiqlal, tahukah Anda siapa arsitek yang ada dibalik ide bentuk bangunan masjid tersebut?


Bukan pemerintah Belanda, tetapi seorang arsitek asal Sumatera Utara bernama Frederich Silaban. Frederich adalah pelopor atau sosok yang sangat berperan besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

(BACA JUGA: 5 Masjid Bersejarah di Dunia yang Wajib Anda Kunjungi)




Saat diberi kepercayaan oleh Bung Karno untuk merancang bangunan untuk masjid Istiqlal, Frederich yang menganut agama Kristen Protestan mengaku kaget dan tidak punya gambaran sama sekali soal masjid. Bahkan, ia disebut-sebut mengalami pergolakan batin karena sebagai seorang non muslim ia merasa sedikit terbebani membuat desain masjid.


Bukan karena tidak ingin, tetapi ia takut ada salah persepsi antara hasil karyanya dengan pemahaman umat Islam soal masjid. Tetapi sumber lain menyebutkan, bahwa Frederich seharusnya tidak merasa terbebani. Karena di zaman itu, mendapat kesempatan untuk mendesain masjid adalah hal yang prestisius.


Melansir dari berbagai laman media massa, Bung Karno meminta khusus kepada Frederich bahwa ia ingin penampakan masjid Istiqlal harus modern. Tidak boleh seperti masjid-masjid pada umumnya.  Bung Karno ingin masjid Istiqlal tampak seperti gedung biasa dari luar, tetapi menyimpan keutuhan Islam di dalamnya.


Pembangunan masjid Istiqlal sendiri dilaksanakan selama 17 tahun. Mulai dari tahun 1951 hingga resmi digunakan pada 1978. Artinya, masjid Istiqlal dibangun saat masa pemerintahan Presiden Soekarno dan diresmikan saat pemerintahan Presiden Soeharto.


Masih melansir dari berbagai laman media massa, saat masjid Istiqlal diresmikan, Frederich sendiri disebut sudah tidak mampu berjalan. Tetapi ia bersikeras ingin melihat hasil karyanya termasuk kubah masjid Istiqlal yang dibuat paling akhir.


Frederich kemudian dibantu oleh beberapa orang berkeliling masjid Istiqlal dengan menggunakan tandu. Selain masjid Istiqlal, Frederich juga seorang arsitek yang ada di balik megahnya Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monas, Kantor Pusat Bank Indonesia, Tugu Khatulistiwa Pontianak, Gerbang Utama Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan masih banyak lagi.


(Andiasti Ajani, foto: istiqlal.id, thejourney.home.co.id)

You Might Also LIke