×

Stay in The know

Intermezzo

WALHI Menilai Kampanye Tanam Pohon di Jakarta Tidak Efektif

WALHI Menilai Kampanye Tanam Pohon di Jakarta Tidak Efektif
Asti Ajani

Thu, 10 January 2019 at 18.06

WALHI menilai kampanye tanam pohon di Jakarta tidak efektif karena, jumlah Ruang Terbuka Hijau masih sangat kurang

Durasi baca: 1 menit.


Hari ini, 10 Januari dunia memperingati Hari Sejuta Pohon Sedunia. Dalam rangka Hari Sejuta Pohon Sedunia, GLITZMEDIA.CO secara ekslusif mewawancarai Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Dari hasil wawancara ini, banyak fakta menarik yang didapat terutama soal penanaman pohon dan Kota Jakarta.


“Kampanye menanam pohon di DKI Jakarta itu sebetulnya tidak efektif. Karena lahannya tidak ada, Ruang Terbuka Hijaunya (RTH) kurang. Logikanya, kalau mau tanam pohon ya harus disediakan dulu lahannya. Tapi ini lahannya saja tidak ada alias kurang,” ujar Rehwinda Naibaho selaku Manajer Advokasi dan Kampanye dari WALHI.

(BACA JUGA: WALHI, “Satu Juta Pohon Belum Bisa Sejukkan Jakarta Adalah Benar!”)


Perempuan yang akrab disapa Winda ini mengatakan, bahwa saat ini Pemerintah DKI Jakarta serta para pelaku industri belum sadar soal pentingnya RTH dan jumlah pohon.




“Jika dilihat dari data jumlah tutupan hutan, itu tidak berjalan dan dianggap tidak efektif. Ekosistem di bagian Utara dan Barat adalah rawa. Ruang serapan air juga tidak ada, sehingga kampanye ‘Tebang Satu, Tanam Dua’ dinilai tidak efektif,” ujarnya.


Winda menambahkan, bahwa menjelang akhir tahun 2018 ada sekitar 57.229 pohon dengan sengaja ditebang karena ada 187 insiden pohon tumbang. “Pohon tumbang diduga karena angin kencang, sudah tua, akar rusak akibat galian, dan lain-lain. Sayangnya setelah ditebang pemerintah tidak menggantinya dengan pohon baru.”


Sebagai Badan Advokasi Lingkungan Hidup dan HAM, WALHI ingin Pemerintah lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Terutama yang berkaitan dengan lingkungan hidup.


“Kami berharap langkah pertama pemerintah dalam waktu dekat adalah membangun RTH sesuai dengan standar yakni 30 persen dari luas wilayah Jakarta. Hal ini penting untuk dilakukan karena tingkat kejenuhan udara di Jakarta sudah sangat memprihatinkan,” tutup Winda.




(Andiasti Ajani, foto: fuzz, syahidsund/pixabay.com, unsplash.com/kilarov zaneit)

You Might Also LIke