Mumi penguin jenis Adélie ini ditemukan di wilayah Cape Irizar, Antartika Selatan.

Durasi baca: 50 detik.


Sebelum membuat artikel ini, Editor GLITZMEDIA kebingungan: apakah berita yang akan disebarkan ini merupakan kabar buruk atau kabar baik? Karena artikel ini akan membahas soal fenomena alam yang baru saja terjadi di awal bulan Oktober kemarin.


Pada bulan Agustus 2020 lalu, sekelompok peneliti mengungkapkan bahwa es yang membentang di sepanjang Antartika, disebut terancam hilang pada tahun 2035. Proses melelehnya bentangan es di Antartika ini sudah mulai berjalan sejak belasan bahkan puluhan tahun silam.


Tepatnya semenjak pemanasan global terjadi di seluruh dunia.  Namun, beberapa hari lalu sekelompok peneliti kembali mengungkapkan, bahwa ada sebuah penemuan baru yang berhasil mereka temukan berkat melelehnya lapisan es di Antartika. 


Melansir dari livescience.com, sekelompok peneliti menemukan banyak sekali bangkai penguin, yang kini telah berubah menjadi mumi. Bukan hanya satu, tetapi ada beberapa mumi penguin yang berhasil ditemukan di wilayah Antartika Selatan tepatnya di Cape Irizar.


Penemuan ini mengejutkan bagi para peneliti lantaran penguin jenis Adélie selama ini diketahui tidak pernah tinggal di wilayah Cape Irizar dalam kurun waktu beratus-ratus tahun. Mereka, disebut tinggal di sekitar Laut Ross Antartika bersama dengan jenis penguin-penguin lainnya.

(BACA JUGA: Mengerikan, Peneliti Menyebut Pemunahan Massal Keenam di Bumi Akan Berlangsung Lebih Cepat) 



(Foto: nypost.com, livescience.com)


Seorang profesor yang juga ahli biologi dari University of North Carolina, Wilmington, bernama Steve Emslie, langsung mengumpulkan temuannya ini untuk diteliti lebih lanjut. Ia dan tim menganalisis radiokarbon yang ada di dalam tulang, kulit telur, sampai sampel kulit dari mumi penguin tersebut.


Hasilnya, mumi penguin tersebut diperkirakan berusia ratusan hingga ribuan tahun. Emslie juga mengungkap bahwa Cape Irizar kemungkinan telah ditempati oleh koloni penguin Adélie yang kemudian berkembang biak, selama tiga kali dalam kurun waktu 5.000 tahun terakhir.


Bahkan, Emslie dan timnya juga merasa beruntung lantaran mumi penguin yang ia temukan dalam kondisi yang sangat bagus alias segar. Mungkin karena tertimbun di dalam lapisan es, maka bangkai penguin tidak mengalami kerusakan secara fisik.


Bahkan beberapa di antaranya masih lengkap dengan bulunya. Sehingga Emslie mengaku jadi lebih mudah untuk meneliti mumi penguin tersebut.


“Selama bertahun-tahun saya bekerja di Antartika, belum pernah sekalipun saya melihat situs yang sepert ini. Kalau saya tidak melihatnya secara langsung, saya pasti akan berpikir kalau mumi tidak mungkin bertahan di daerah berangin seperti ini,” tutur Emslie.


(Andiasti Ajani, foto: nasa.gov)