Catcalling adalah jenis pelecehan seksual verbal yang seringkali tidak disadari.


“Hai cewek, mau ke mana?” atau “Kiw kiw.. suit suit!” beberapa dari kamu pasti ada yang pernah mengalami hal ini saat melewati sekelompok laki-laki yang sedang duduk-duduk. Sikap ini disebut dengan nama catcalling.


Menurut Oxford Dictionary, catcalling didefinisikan sebagai siulan, panggilan dan komentar yang bersifat seksual dari seorang laki-laki kepada perempuan yang lewat dihadapannya. Catcalling akan berkembang menjadi street harassment, yakni bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat umum.


Sayangnya, catcalling sering dianggap lumrah oleh sebagian orang terutama di Indonesia. Padahal, pelecehan seksual jenis ini bisa menjadi berat karena setiap kata-kata godaan yang keluar dari mulut pria memiliki arti tersembunyi.


Meskipun masuk ke dalam kategori pelecehan seksual, namun pelaku catcalling belum bisa ditindak secara hukum. Hingga saat ini hukum pelecehan seksual di Indonesia masih fokus pada pelecehan seksual secara fisik saja.


Pada tahun 2016 lalu, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk guna mendukung penyintas atau korban pelecehan seksual, Lentera Sintas Indonesia (LSI), melakukan sebuah survei tentang pelecehan seksual verbal.


Hasilnya, pelecehan seksual secara verbal menjadi jenis kekerasan seksual yang paling umum terjadi. Survei tersebut berlangsung selama bulan Juni 2016, dengan jumlah responden sekitar 25.213 baik dari kota maupun daerah.

(BACA JUGA: Lakukan Ini Saat Menjadi Korban Catcalling)




Ternyata, 58 persen dari responden tersebut pernah mengalami pelecehan seksual secara verbal. LSI juga mengungkapkan bahwa menurut Komisi Nasional Perempuan, pelecehan seksual ada beberapa kategori.


Verbal, fisik, pemaksaan melihat konten porno, intimidasi atau ancaman saat melakukan aktivitas seksual, serta pemerkosaan.


Mariana Amiruddin, selaku Kepala Subkomisi Bidang Partisipasi Publik Komisi Nasional Perempuan mengatakan, masyarakat di Indonesia baru mengenal taraf kekerasan seksual dari lapisan luarnya saja. Belum sadar apa itu dampaknya, penyebabnya, hingga bentuknya.


“Misalnya ada perempuan lewat terus disiulin laki-laki yang tidak dikenal, tindakan laki-laki tersebut sebetulnya adalah bentuk pelecehan. Tapi tindakan tersebut seakan-akan dianggap benar dan biasa, seperti setiap perempun dididik bahwa disiul itu adalah hal yang wajar karena mereka adalah perempuan,” ujar Mariana.


Ia menambahkan, sudah tugas negara seharusnya menjamin setiap penduduknya mendapat jaminan keamanan termasuk soal pelecehan seksual. Kesadaran pemerintah akan pentingnya penegakan hukum bagi pelaku pelecehan seksual adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan.


Berdasarkan data survei yang ada, hingga saat ini penyelesaian kasus pelecehan seksual di Indonesia baru sekitar satu persen dari jumlah keseluruhan kasus pelecehan seksual.


(Andiasti Ajani, foto: change.org, nypost.com)