Stay in The know

Intermezzo

212 The Power of Love: Pengemasan yang Melempem

212 The Power of Love: Pengemasan yang Melempem

Jika lebih berani, film ini bisa sangat menginspirasi.

Durasi baca: 1 menit 25 detik.


Kami masih ingat bagaimana peristiwa 212 berlangsung kala itu. “Putihkan Jakarta” menjadi semangat yang digadang oleh semua pihak terlibat dalam Aksi Bela Islam III atau dikenal sebagai Aksi Super Damai 212. Pengaruh peristiwa tersebut luar biasa, tidak hanya menjadi perbincangan nasional melainkan internasional. 

(BACA JUGA: Saat Filosofi Kopi 2 Ben Jody Semakin Bernyawa)


Situasi yang awalnya sempat dikira berpotensi makar dan akan menuai kericuhan justru berlangsung cukup damai—bahkan tidak ada peserta aksi damai yang menginjak rumput. Sanking menginspirasinya aksi pada tanggal 2 Desember 2016 itu, Warna Pictures memproduksi sebuah film drama keluarga dengan balutan Aksi Super Damai 212, berjudul 212 The Power of Love.


Disutradarai oleh Jastis Arimba, film ini berkisah tentang konflik antara Rahmat (Fauzi Baadilla) dan ayahnya, Ki Zainal. Rahmat adalah seorang jurnalis, salah satu lulusan terbaik Harvard University, dan memiliki pemikiran bahwa, “Agama adalah nafas orang-orang yang putus asa,”—sebuah pemikiran Marxis dari Karl Marx. Sementara itu, Pak Zainal memiliki cara pandang berbeda, “Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘alamin”. Bagi Pak Zainal, Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.




Lebih jauh, ketidakcocokkan Rahmat dan Pak Zainal juga terlihat kala Rahmat terkesan agnostik sementara Pak Zainal terlihat seperti Ahlussunnah Wal Jama’ah—orang yang memahami wahyu dan menekankan pentingnya realitas kehidupan. Pak Zainal mementingkan kekeluargaan dan kebersamaan sementara Rahmat hanya memiliki sedikit teman, yang lagi-lagi prinsip ini berkiblat para Marxisme—“Gue hanya mau menghabiskan waktu dengan orang-orang yang bisa gue ajak ketawa, yang peduli sama gue, yang mau bantu ketika susah.”

Author:

You Might Also LIke