×

Stay in The know

Events

Pentingnya Investasi Kepada Anak & Perempuan Muda Dalam Pembangunan SDM Di Indonesia

Pentingnya Investasi Kepada Anak & Perempuan Muda Dalam Pembangunan SDM Di Indonesia
Anggia Hapsari

Fri, 13 December 2019 at 16.05

Bukan hanya laki-laki saja, perempuan pun memiliki andil penting untuk membuat Indonesia makin maju nantinya. Anda setuju? 

Durasi baca: 1 menit


Disadari atau tidak, namun nyatanya lingkungan sosial masih saja menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua dibanding laki-laki. Buktinya, streotype kepada anak perempuan yang sebaiknya lebih banyak menetap dan melakukan berbagai kegiatan di rumah: memasak, bersih-bersih, dan lainnya masih saja berlaku.


Data yang diperoleh dari KPPA tahun 2018 bahkan menyatakan bahwa 1 dari 11 anak perempuan pernah mengalami kekerasan. World Bank pada tahun yang sama pun pernah menyebutkan rendahnya tingkat pasrtisipasi angkatan kerja yaitu 50% dibanding laki-laki 85%. 

(BACA JUGA: Cantik dan Menginspirasi Inilah 3 Sosok Perempuan Hebat di Bisnis E-Commerce)



Padahal untuk meningkatkan taraf hidup, kita semua perlu menginvestasikan hal yang sama pada anak laki-laki dan perempuan, mulai dari akses pendidikan dan pilihan karier yang beragam.


INVESTASI TERHADAP PEREMPUAN

Sayang,anak dan kaum muda perempuan di Indonesia saat ini masih melalui berbagai tantangan seperti di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun politik. 


Pada tahun 2018, menurut Plan International, telah terjadi perkawinan pada 1 dari 7 anak perempuan berusia 18 tahun di Indonesia, artinya hal ini juga mengganggu kegiatan bersekolah. 



Selain itu, 47,4% dari 1.000 perempuan berusia 15-19 tahun mengalami kehamilan tidak terencana karena aktivitas seksual yang tidak aman (UNDP, 2017). 


Bertujuan untuk memperkuat gerakan kesetaraan anak perempuan dan perempuan muda agar memiliki kuasa terhadap hidup dan masa depannya, Plan Indonesia melanjutkan kesuksesan kampanye #GirlsGetEqual di tahun 2018. 


Kampanye tersebut digalakkan kembali saat memperingati 50 tahun Plan Indonesia berkarya di Tanah Air bertajuk Summit on Girls-Getting Equal: Let's Invest In Girls. 


Negara akan kehilangan potensi terbesarnya jika gagal memberdayakan perempuan termasuk anak perempuan,” tegas Suahasil Nazara, selaku Wakil Menteri Keuangan, pada pembukaan Summit On Girls 2019.

(BACA JUGA: Dilema Ibu Bekerja: Karier atau Keluarga)


Saatnya kita semua menyuarakan tantangan yang dialami anak perempuan Indonesia. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga bisa mendapatkan hak yang sama khususnya peran perempuan dalam pembangunan ekonomi serta kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.



Acara yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, beberapa waktu lalu dan dihadiri sejumlah nama ternama seperti Nahar - Deputi Perlindungan Anak yang mewakili, Dr. Ir. Subandi, M. Sc - Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat & Kebudayaan BAPPENAS, Fauziah - Direktur Bina Instruktur dan Tenaga Kepelatihan, serta Sumiyati - Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan tersebut seolah menjadi angin segar bagi banyak orang.


Tak hanya itu, ada juga pembicara utama yang hadir seperti Prof. DR. Fasli Jalal – Dewan Pembina Yayasan Plan International Indonesia; H.E. Cameron MacKay - Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste; Suci Apriani – Ketua Kelompok Perlindungan Anak Desa dari Lombok Barat; Hannah Al-Rashid aktor dan aktivis kesetaraan gender; serta Suzy Hutomo pendiri dan Chairperson Body Shop Indonesia.


DUKUNGAN TERHADAP PEREMPUAN

Dijelaskan lebih lanjut oleh Suahasil Nazara, kesetaraan gender dapat membantu meningkatkan potensi produk domestik bruto (PDB). 


Di Indonesia, PDB tahunan berpotensi meningkat hingga 135 miliar USD pada 2025 dengan tercapainya kesetaraan gender (data diperoleh dari McKinsey, 2018). 



Namun saat ini, Indonesia berada di peringkat 116 dari 189 negara dalam Gender Inequality Index UNDP. Peringkat ini lebih rendah dari negara tetangga seperti Singapura, Filipina, dan Thailand. Tiga indikator utama yang memengaruhi indeks ini termasuk dalam pembangunan SDM, pemberdayaan perempuan, dan partisipasi dalam lapangan pekerjaan formal.


Perlu adanya perbaikan dan langkah positif yang mesti dilakukan oleh seluruh pihak jika kita mau maju,” tegas Dini Widiastuti selaku Direktur Eksekutif Plan Indonesia. 



Ia pun mengapresiasikan kebijakan positif seperti perubahan batas perkawinan untuk anak perempuan menjadi 19 tahun yang berdampak besar bagi kesetaraan gender dan pembangunan SDM. 


Semua orang harus sadar bahwa kita perlu mulai berinvestasi pada anak perempuan pada saat mereka remaja mulai dari pendidikan, watak, hingga soft skill. Karena itu akan mendorong upaya dan juga memajukan potensi perempuan Indonesia, khususnya di bidang SDM,” jelasnya lagi.


Hal ini pun disetujui dan didukung penuh oleh Deputi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ghafur Dharmaputra yang menerangkan bahwa semakin banyaknya perempuan yang terlibat di berbagi bidang, maka Indonesia pun akan semakin maju. 



Pada acara Summit On Girls 2019, Plan International membuka diskusi panel untuk memperbincangkan berbagai hal yang perlu diperhatikan untuk memajukan kesejahteraan perempuan, dimulai sejak masa anak-anak. Setidaknya ada sekitar 500 peserta serta lebih dari 40 pembicara dan juga 14 mitra institusi yang berpartisipasi saat itu.


Terdapat enam topik pilihan diskusi, yaitu perempuan muda di bidang politik, sains dan teknologi, dunia kerja, dunia digital, industri kreatif dan media, serta perubahan iklim. Semuanya bertujuan untuk membahas berbagai cerita inspiratif, dukungan, dan program kerja nyata untuk mencapai kualitas hidup perempuan menjadi lebih baik.      


Berinvestasi pada perempuan adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan. Namun, kita harus lebih berinvestasi sejak awal secara bersama-sama oleh setiap lapisan masyarakat dan pemerintah,” tutup Dini seraya tersenyum penuh percaya diri.

(Zeta Tsaniya/ Anggia Hapsari, foto: Summit on Girls)



You Might Also LIke