Awalnya, saya ingin membuat jam tangan yang tangguh karena dulu jam tangan istimewa pemberian ayah saya jatuh dan hancur berantakan. Dari pengalaman itu saya ingin membuat jam tangan yang tidak mudah rusak. Saya melakukan eksperimen selama 2 tahun penuh dengan 200 kali kegagalan yang akhirnya menghasilkan desain inovasi hollow case,” ungkap Ibe yang mencoba menjelaskan dengan bahasa Indonesia. Ia juga bercerita bahwa jam tangan G-SHOCK pertama justru lebih laku di pasar Amerika Serikat. “Pada tahun 1990-an, barulah Jepang menyukai G-SHOCK,” tambahnya.


Ada sebuah semangat yang Ibe bagikan di kesempatan tersebut. “Never, never, never, never give up!” tegasnya yang juga menjadi inspirasi bagi 3 inovator Indonesia. Bagi Irzan Raditya, Maudy Ayunda, dan Tyovan Ari menjadi inovator memang bisa dilakukan oleh siapa saja. “Setiap orang yang mau berproses dan belajar pasti bisa menjadi inovator. They are not born to be innovators, they built theirself to be it,” komentar Maudy dengan pantsuit berwarna biru.


Tidak hanya pada 3 inovator muda berbakat tersebut, perjalanan Kikuo Ibe akan berlanjut ke 3 kota di Indonesia untuk berbagi semangat yang sama. “Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada anak muda Indonesia: Tantangan dan kesulitan akan selalu ada. Ketika terhalang sebuah tembok besar, lihatlah ke pergelangan tangan kalian. Saya harap G-SHOCK bisa memberi kalian semangat untuk siap menghadapi segala bentuk tantangan dan pantang menyerah sampai kapanpun,” tutup Ibe.


(Shilla Dipo, foto: G-SHOCK Indonesia)