Stay in The know

ads

Celebuzz

Metamorfosa Andien yang Belum Berakhir

Metamorfosa Andien yang Belum Berakhir

Cerita showcase dan metamorfosa Andien setelah menjadi Ibu.

Durasi Baca: 1 Menit 30 Detik


Sore itu, sebelum melangsungkan showcase “Metamorfosa”, GLITZMEDIA.CO mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang singkat bersama dengan empunya acara, Andien Aisyah. Sebelum memulai konferensi pers, Ibunda dari Anaku Askara Biru ini meluangkan waktu untuk bercerita sedikit mengenai pertunjukkan tersebut. Tampil modis dengan busana eklektik Friederich Herman dan aksesori dari House of Jealouxy. Andien tampak sumringah dan bersahaja dengan senyuman hangat yang selalu Ia lemparkan. 


Aura positif Andien menular ke seluruh orang yang berada di dalam kamar hotel. Andien bercerita sedikit mengenai kebiasaan Kawa—panggilan putra semata wayang—yang suka main air. “Dia itu paling tidak suka dengan dua hal, disuruh pakai baju dan mandi. Kawa senang main air tapi kalau tahu setelah itu harus mandi dia akan menghindar,” paparnya sambil tertawa. Suasana yang mudah cair tersebut berlanjut dengan wawancara singkat namun padat.


Apa alasan Andien membuat showcase bertajuk “Metamorfosa” dan apa yang membedakan dengan konser dua tahun lalu?

Sebenarnya Metamorfosa ini adalah judul konser saya dua tahun yang lalu. Pada tahun 2017 kemarin ‘Metamorfosa’ saya pilih untuk menjadi judul album. Pada konser saya dua tahun lalu, saya pernah mengatakan bahwa metamorfosa saya tidak hanya berhenti sampai di sini. Dan ternyata benar, sesudah itu saya hamil dan melahirkan. Disitu banyak sekali turning point dan insight baru yang saya temukan baik dalam hidup atau karir bermusik saya. Semuanya saya tuangkan dalam album ‘Metamorfosa’. Showcase Metamorfosa ini presentasi dari album ke-7 dimana saya bercerita mengenai masing-masing lagu. Dalam showcase ini saya akan bercerita banyak bagaimana saya terinspirasi dari earliest of my career untuk album ini.


Dalam showcase kali ini, Andien berkolaborasi dengan Kelas Pagi dan memilih penampil pembuka, Teddy Adhitya. Apa alasan Anda memilih berkolaborasi dengan mereka?

Saya yakin zaman sekarang adalah era kolaborasi, dimana kolaborasi menjadi modal yang sangat besar bagi para seniman untuk berkarya. Jadi, alasan saya memilih Kelas Pagi untuk menampilkan visual presentation, yang pertama adalah saya sangat kenal baik dengan mas Anton Ismael. Dia adalah art director di konser metamorfosa dua tahun lalu. Setelah konser kemarin banyak sekali terlibat pembicaraan mengenai Kelas Pagi. Saya juga sangat penasaran dengan bagaimana cara mereka berkarya, bagaiaman mereka bisa menginterpretasikan karya saya ke dalam sebuah video. Oleh karena itu showcase malam ini adalah sebuah musik yang direspon dengan visual. Jadi, masing-masing lagu nanti akan direspon secara visual oleh mereka. Kalau untuk Teddy Adhitya kebetulan sekali waktu AMI (Anugerah Musik Indonesia), saya ada di backstage ketika Teddy menerima penghargaan sebagai penyanyi pendatang baru terbaik. Saya tersadar bahwa waktu sangat cepat berlalu, 17 tahun yang lalu saya ada di panggung tersebut untuk menerima penghargaan yang sama. 17 tahun kemudian, saya cerita sampai merinding saya masih ada disitu untuk bernyanyi dan masih bisa menyaksikan talenta-talenta yang saat ini keren banget. Saya ingin sekali berkolaborasi dengan Teddy, itu yang ada di pikiran saya.



  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke