Jauh dari kata bangga dan berharga, keturunan Kartini justru hidup miskin dan tidak mendapat perhatian.


Selamat Hari Kartini! Jika hari ini tidak ada corona, pasti semua sekolah dasar di Indonesia akan mengadakan pawai atau karnaval di mana para murid akan mengenakan pakaian daerah. Sayangnya, karena sekolah ditutup sementara waktu, kemeriahan Hari Kartini sangat kurang jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.


Bicara soal Kartini, mengulas kehidupan atau latar belakang perempuan yang lahir 141 tahun silam ini, memang akan selalu menarik untuk disimak. Kali ini, bukan soal pergerakannya atau ratusan surat yang terkumpul dalam sebuah buku berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, tetapi soal kehidupan pribadinya.


Kartini yang lahir dengan nama lengkap Radeng Adjeng Kartini ini, lahir di Jepara pada 21 April 1879. Ketika berumur 24 tahun, Kartini menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya yakni Bupati Rembang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, untuk menjadi istri ketiganya.


Belum genap setahun menikah, Kartini dikaruniai seorang putra bernama Soesalit Djojo Adhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Sayangnya, lima hari setelah lahir ke dunia Soesalit harus kehilangan ibunya. Karena Kartini, disebut meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904.

(BACA JUGA: Keresahan Hingga Pernikahan, Begini Rangkuman Singkat Biografi R.A. Kartini)


Setelah Kartini meninggal dunia, Soesalit dirawat dan dibesarkan oleh kedua neneknya yakni M.A. Ngasirah (ibu dari Kartini) atau Nyonya Mangunwikromo (ibu dari K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat). Tidak lama memang, karena setelah sedikit besar Soesalit kembali tinggal dengan sang ayah.


Namun sebuah tragedi kembali terjadi. Saat Soesalit berusia 8 tahun, ia terpaksa harus menelan pil pahit karena ayahnya berpulang ke pangkuan Tuhan. Sepeninggal ayahnya, Soesalit diasuh oleh kakaknya yang bernama Abdulkarnen Djojoadhiningrat.


Meskipun lahir dari ibu yang berbeda, namun rasa sayang Abdulkarnen terhadap Soesalit sangatlah tulus. Abdulkarnen bahkan menyekolahkan Soesalit ke Europe Lager School (disingkat ELS), sekolah Belanda yang juga menjadi tempat Kartini menuntut ilmu.


Setelah dewasa, Soesalit menikah dengan seorang perempuan bernama Siti Loewijah dan dikarunia seorang anak laki-laki. Anak laki-laki tersebut diberi nama Beodi Setyo Soesalit. Boedi di masa depan menikah dengan seorang perempuan bernama Sri Bidjatini.


Lewat pernikahan ini, Boedi dan Sri dikaruniai lima orang anak: Kartini, Kartono, Rukmini, Samimun, dan Rachmat. Perbandingan terbalik kehidupan Kartini dan keturunannya, terletak pada lima orang cicitnya ini.



(Foto: Soesalit Djojoadhiningrat - anak tunggal Kartini)