×

Stay in The know

Celebuzz

Dewi ‘Dee’ Lestari Buka Suara Soal Karyanya yang Diangkat ke Layar Lebar

Dewi ‘Dee’ Lestari Buka Suara Soal Karyanya yang Diangkat ke Layar Lebar
Ayu Utami

Thu, 6 July 2017 at 19.10

Begini tanggapan perempuan yang akrab dipanggil Dee ini ketika kreator lain memodifikasi karyanya.

Tentu Anda sering menonton film yang merupakan hasil karya dari sebuah novel. Lalu, apa yang Anda rasakan ketika membaca bukunya, kemudian menonton filmnya? Jujur saja, tidak jarang Anda membandingkan karakter dalam film dengan apa yang tergambar dalam buku. Terkadang bisa sesuai dengan imaji ketika membaca, namun tidak jarang visualisasinya berbeda. Jika sebagai pembaca saja Anda merasa memiliki ikatan dengan tokohnya, bagaimana rasanya menjadi penulis buku tersebut?

Bukan satu atau dua kali film layar lebar terinspirasi dari sebuah novel. Bagi penulis, sudah pasti hal tersebut sangat membanggakan. Meskipun begitu, ada hal-hal yang harus penulis relakan ketika karyanya tervisualisasi dalam sebuah film. Karakter, alur cerita, hingga idealismenya dimodifikasi sedemikian rupa dalam karya berbeda. 

Sebagai seorang penulis yang karyanya sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar, Dewi ‘Dee’ Lestari mempunyai pandangan sendiri akan hal tersebut. “Saya tidak lihat kompetisi (saat ada yang mengangkat buku saya menjadi film), tetapi berusaha mengapresiasi kreator lain atas karya saya,” tanggap penulis Filosofi Kopi ini. Baginya, penulis memang memiliki idealismenya masing-masing tetapi idealisme penulis tersebut sebaiknya hanya ditempatkan ketika menulis buku. “Ketika jadi film, sudah bukan saya lagi yang berkarya,” tambah Dee di Plaza Indonesia Jakarta, 5 Juli 2017 lalu. 

Perempuan yang juga tergabung dalam kelompok musik RSD ini turut menyatakan bahwa setiap penulis perlu menempatkan diri jika ingin menjadi besar. Hal ini juga ia tunjukkan ketika harus menjadi tempat konsultasi para penulis cerita maupun sutradara yang ingin mengangkat bukunya menjadi sebuah karya berbeda. “Sebagai konsultan cerita, saya tidak melihat apakah (ide sutradara) melenceng dari a, b, atau c. Tetapi, (saya melihatnya) sebagai karya baru supaya dapat menempatkan diri dengan tepat,” imbuhnya.

Dee menambahkan bahwa ia pun enggan berekspektasi dan membandingkan karyanya dalam buku dengan film. “Saya selalu melihat karya (film dari novel) tersebut sebagai karya baru. Jadi ketika melihat hasil filmnya—contohnya 'Filosofi Kopi 2: Ben & Jody'—justru hal tersebut melebihi ekspektasi saya. Karya saya bukan lagi diadaptasi, tapi bertumbuh besar dan memiliki hidup sendiri,” tutup perempuan kelahiran Bandung, 20 Januari 1976 tersebut.

(Shilla Dipo, foto: Aditya Virmana)

You Might Also LIke