×

Stay in The know

Skincare

Inilah Yang Terjadi Pada Kulit Saat Anda Mengalami Stres dan Gangguan Kecemasan

Inilah Yang Terjadi Pada Kulit Saat Anda Mengalami Stres dan Gangguan Kecemasan
Saskia Damanik

Fri, 12 August 2016 at 17.09

Gangguan kecemasan atau stres juga menjadi salah satu faktor munculnya permasalahan pada kulit. 

Paparan sinar ultraviolet, gaya hidup tidak sehat, serta perawatan kecantikan yang tidak teratur menjadi faktor eksternal terganggunya keseimbangan kondisi kulit. Namun, ada faktor internal yang berperan penting mempengaruhi kesehatan dan kecantikan kulit seseorang, yaitu gangguan kecemasan atau stres. 

Stres akan menimbulkan reaksi kimia di dalam tubuh, yang membuat kulit menjadi lebih sensitif dan reaktif. Lebih detailnya seperti apa kondisi kulit saat tubuh berada dalam kecemasan atau tingkat stres tinggi? Simak penjelasan dari ahli dermatologi internasional berikut ini.  


Wajah Menjadi Pucat dan Timbul Garis-Garis Halus

Seorang dermatologis asal New York—Kavita Mariwalla—mengungkapkan bahwa tekanan depresi dapat menyebabkan kulit menjadi kusam, pucat, bahkan kehilangan elastisitas. Tak heran jika Anda seringkali mendapati munculnya jerawat atau garis-garis halus dalam kondisi tertekan. Pasalnya, stres dan anxiety memang memiliki efek merusak pada DNA di dalam sel-sel tubuh. Kondisi tersebut merusak bagian telemores—bagian ujung dari setiap rantai jaringan DNA—yang melindungi kromosom dan mempengaruhi usia sel-sel kulit. Akibatnya, sel-sel menjadi lebih cepat mati dan merusak sistem kerja tubuh. 

(BACA: Menurut Ahli Dermatologi, Anda Perlu Menghilangkan Rutinitas Kecantikan Berikut Ini)


Jaringan Kulit Terlukai 

Saat mengalami gangguan kecemasan (anxiety), banyak sekali hal-hal yang tanpa disadari sering kita lakukan. Hal ini disetujui oleh dr. Abigail Waldman—Ahli Dermatologi dari Brigham and Women’s Hospital Boston—bahwa kebiasaan tersebut dapat berupa perilaku yang menyakiti diri sendiri. Misalnya menggaruk kulit yang merupakan salah satu kebiasaan penderita anxiety hingga menyebabkan luka dan bekas yang sulit dihilangkan. Lebih parahnya lagi, sebuah penelitian menunjukan bahwa 3,6% penderita anxiety dewasa berisiko mengalami trikotilomania. Penyakit tersebut menimbulkan keinginan untuk menarik rambut hingga rontok bahkan botak permanen lantaran adanya tekanan depresi dan psikologis dari dalam diri.




Timbulnya Penyakit Kulit  

Kulit sering mengalami peradangan, kemerahan, hingga iritasi yang mengarah pada penyakit ekzema atau psoriasis? Menurut dr. Waldman, hal tersebut bisa saja disebabkan oleh tekanan depresi yang tengah Anda alami. Hormon kortisol stres yang meningkat secara berlebihan, menghalangi sistem imunitas untuk melindungi kulit. Umumnya, pasien yang memiliki gangguan tinggi pada kulit cenderung mengalami anxiety baik secara individu maupun sosial. Karena itulah, dr. Waldman membenarkan bahwa stres berkepanjangan dapat mempengaruhi kondisi kulit yang negatif. Jika mengalami hal serupa, dr. Waldman menyarankan Anda mengunjungi psikiater selain ahli dermatologi.   


Sulit Tidur dan Kondisi Kulit Rusak 

Penelitian menunjukan jika kondisi stres yang disebabkan oleh hal-hal kecil sudah dapat menimbulkan efek negatif pada waktu tidur seseorang. Di samping itu, kondisi tersebut tidak hanya membuat tubuh menjadi tidak berenergi, namun juga mempengaruhi penampilan. Selain menimbulkan kantung dan lingkaran hitam di bawah mata, dr.Waldman juga mengungkapkan jika kulit akan ‘dihiasi’ oleh berbagai tanda penuaan. Penggunaan skin care yang tepat dapat membantu menyamarkan permasalahan tersebut. Namun, tidak ada solusi yang lebih baik dibandingkan tidur cukup selama 7-8 jam setiap harinya. 

(BACA: Ini Alasannya Mengapa Kurang Tidur Dapat Menimbulkan Efek Buruk Terhadap Kecantikan)


Rambut Mengalami Kerontokan

Kondisi ini disebut Telegon Effluvium di mana rambut mengalami kerontokan alami yang disebabkan tingkat tekanan dan depresi yang tinggi. Menurut penjelasan dr. Waldman, rambut memiliki kemampuan untuk membentuk pola pertumbuhan dan kerontokan sendiri tanpa dipengaruhi faktor eksternal. Namun, saat kondisi tubuh sedang tidak stabil, rambut menjadi kesulitan untuk mengikuti polanya secara teratur. Meskipun penyebabnya belum dipahami secara jelas, namun dr. Waldman memberi spekulasi jika rambut kehilangan energinya saat tubuh mengelami tekanan. Jika Glitzy mengalami kerontokan parah padahal sudah melakukan perawatan secara tepat, kondisi stres bisa menjadi jawaban utamanya.  

(Kissy Aprilia, Images: Berbagai Sumber)

You Might Also LIke