Stay in The know

Me & Mind

Makan Banyak Karena Stres berdampak Buruk Bagi Pencernaan

Makan Banyak Karena Stres berdampak Buruk Bagi Pencernaan

Ini yang terjadi pada sistem pencernaan Anda.

Durasi Baca: 1 menit


Stres dapat memicu keinginan makan yang berlebih. Anda merasa dengan mengonsumsi banyak makanan, maka akan memberikan rasa nyaman. Padahal, seharusnya Anda bisa mengontrol nafsu makan yang tinggi saat sedang stres.  


Tidak hanya membuat gemuk, makan di kala stres berdampak buruk bagi sistem pencernaan. Melansir laman Nypost.com, pernyataan tersebut keluar dari peneliti di Brigham Young University. Studi tersebut menggunakan tikus sebagai objek penelitian. 


Awalnya, peneliti melakukan tes stres pada tikus yang masih kurus. Lalu mikrobiota (usus) mengalami perubahan. Ketika dibandingkan dengan mikrobiota usus tikus yang sudah mengalami obesitas, ternyata bentuknya sama dengan mikrobiota tikus yang masih kurus dan stres. Ternyata bakteri yang hidup di saluran pencernaanlah sumber utamanya. Sehingga para peneliti menarik kesimpulan bahwa stres dapat memengaruhi metabolisme tubuh layaknya makanan. 


Ada satu lagi penelitian yang tidak memakai tikus sebagai objek. Penelitian dari jurnal Obesity yang menemukan bahwa kadar hormon kortisol—hormon penyebab stres—dapat menambah ukuran lingkar pinggang pada seseorang. Sehingga indeks massa tubuh manusia pada seseorang cenderung naik. 


Rasa tidak nyaman seperti stres membuat hormon kortisol menyebar cepat dalam tubuh. Pada saat itu, kadar glukosa seseorang akan meningkat dan diikuti dengan insulin. Dr. Holly Lofton, pakar program penurunan berat badan di NYU Langone Health mengatakan bahwa hal tersebutlah yang menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh. 


Untuk mencengah hal tersebut, Lofton menyarankan bagi Anda yang terkena obesitas akibat stres, carilah kegiatan yang bersifat santai dan menyenangkan. Cobalah untuk menenangkan diri sendiri hingga kadar stres menghilang sepenuhnya. Sebagai contoh, Anda dapat melakukan meditasi atau yoga guna menyegarkan otak kembali. Saat Anda bisa mengendalikan stres, saat itulah Anda turut mengatur berat badan. 


(Maghfira Farhana, foto: pxhere.com)


You Might Also LIke