Stay in The know

Health & Body

Benarkah Sering Jet Lag Berisiko Terserang Kanker?

Benarkah Sering Jet Lag Berisiko Terserang Kanker?

Simak jawabannya dalam waktu 40 detik.


Bagi Anda yang sering bepergian menggunakan pesawat dalam jarak tempuh lama, pasti sering atau pernah merasakan jet lag. Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan jam tidur yang disebabkan perbedaan waktu antara satu negara dengan tempat asal Anda. Akibatnya seseorang akan mengantuk dan sulit berkonsentrasi pada saat jam kerja.


Menurut Angela Relogio selaku peneliti asal Charite-Medical University, Berlin menemukan, bahwa orang yang sering jet lag memiliki tingkat risiko terkena kanker lebih besar. “Tubuh memiliki jam biologis yang berfungsi mengatur seluruh sel manusia selama 24 jam, termasuk fungsi saraf otak. Secara alamiah, keadaan ini membuat tubuh dapat mendeteksi cahaya dan gelap yang membedakan kapan tubuh harus beristirahat di malam atau siang hari—karena keduanya memiliki durasi tidur yang berbeda. Jika seseorang mengalami jet lag secara berulang dan terus menerus, maka fungsi otak akan terganggu”.




Ia juga meneliti keterkaitan antara jet lag dan jam tidur dengan cara menganalisis salah satu unsur biologis bernama RAS—jenis protein di dalam tubuh pemicu kanker. Hasilnya, mereka menemukan, bahwa orang yang sering melakukan perjalanan melalui udara dalam waktu lama dan mengalami jet lag mampu mengaktifkan ¼ protein RAS yang membuat orang rentan mengalami kanker.


Selain itu, orang yang mengalami jet lag biasanya akan mengalami beberapa gejala lain seperti insomnia, masalah pencernaan, mudah lelah, gangguan menstruasi, mual, sensitif, nyeri bagian otot, hingga kerusakan pada sistem saraf tubuh yang memicu timbulnya sel kanker. Anda dapat mengobatinya dengan cara menyesuaikan jam tidur dengan zona tersebut dan mengimbangi dengan konsumsi makanan sehat.


(Elizabeth Puspa, foto: pxhere.com, pexels.com)

You Might Also LIke