Stay in The know

Glitz Journal

Nikicio Kini di Mata Nina

Nikicio Kini di Mata Nina

Perubahan pola pikir yang terefleksikan lewat koleksi Black dan White Label.

Di awal Nikicio muncul, merek pakaian karya Nina Karina Nikicio ini bagaikan simbol eksistensi. Ia memiliki studio sendiri dan menggeliat dengan mulus tanpa perlu bersarang di Level One, Grand Indonesia—tempat merek-merek lokal mulai naik daun dan diburu oleh anak muda perkotaan. Saat itu Nikicio adalah bagian dari pergerakan desainer muda untuk unjuk gigi bahwa karya mereka lebih mudah diterima, dengan harga yang cukup terjangkau. Di dunia mode, Nikicio memiliki nama yang harum, dan ia berada di titik aman.

Lalu Nina memasuki dunia motherhood. Seperti apa yang kebanyakan para ibu alami, kehamilan merubahnya baik dari segi fisik maupun psikologis. Merek yang ia bangun untuk menciptakan riak di industri mode, sedikit berubah haluan dari segi sudut pandang penciptaan sebuah karya. Menurutnya, body image perempuan ‘dituntut’ untuk terlihat kurus dengan ukuran tertentu—karena toh, lebih mudah mengerjakan desain bagi perempuan kurus ketimbang desain untuk perempuan dengan lekuk tubuh. “Saya merasa hal tersebut harus berubah. Perempuan itu harus dirayakan. Siapapun mereka, layak untuk tampil bagus, dan merupakan tugas kami sebagai perancang untuk membuat mereka terlihat bagus,” ujar perempuan kelahiran 29 April tersebut. 


Nina mengakui ia sempat mengalami depresi pasca melahirkan. “Saya melalui masa sedih dan depresi sebagai ibu. Namun saya mencoba menaklukkannya dengan menyayangi anak-anak saya dan bekerja. Saya juga menyadari bahwa banyak pakaian saya yang tidak pas lagi, atau tidak menunjukkan siapa saya sekarang ini. Saat ini saya merasa lebih dewasa dan lebih serius sebagai individu. Dulu saya berpikir kalau saya itu jauh lebih keren karena kurus, pergi ke pesta-pesta, keliling dunia, dan sebagainya. Saya seperti dipaksa untuk berpakaian agar diterima di lingkungan sosial. Lemari pakaian saya tampak menyedihkan. Saya pun, terlihat menyedihkan karena mengingatkan saya pada siapa saya sebenarnya,” kenang Nina. 

Black Label dan White Label yang merupakan sub-label dari Nikicio, lahir dari hasil kemenangan Nina melawan depresinya. Ia menemukan jati dirinya dengan semua kedamaian batin yang masih terus ia usahakan untuk tumbuh. Nina kembali menjelaskan, “Saya ingin memiliki koleksi pakaian yang yang akan membuat saya tersenyum hingga nanti saya berusia 60-an. Saya ingin menciptakan sustainable wardrobe. Black Label hadir untuk perempuan matang usia 40 tahun ke atas (walaupun usai tidak menentukan kedewasaan seseorang). Pemakainya adalah individu yang sudah memiliki pikiran terbuka karena ia telah berkelana, sehingga ia menjadi individu yang lebih dewasa, tenang, namun tetap memiliki kepribadian yang kuat. Berbeda dengan White Label yang diperuntukkan bagi perempuan muda yang sedang dalam masa transisi untuk menemukan jati diri. Ia adalah kanvas kosong yang memiliki kebebasan untuk menuliskan jalan hidupnya sendiri.

Pada dasarnya kedua label tersebut merepresentasikan alur perubahan hidup seorang perempuan, baik dari segi pola pikir, selera berpakaian, cara pandang terhadap politik, agama, keluarga, dan bahkan sudut pandang kehidupan secara umum. Persis seperti apa yang Nina alami hingga bisa sampai ke tahap ini. Perubahan tersebut justru membuatnya menyajikan karya yang lebih berkualitas, dengan konsep mendalam dan masuk akal. 

"Our industry will get better and more sustainable in the future. I would like to give my legacy to my children and this is one of my way to do it," tutupnya.
Foto: Leandro Quintero/ Thomas Danes
Pengarah Gaya: Karin Wijaya/ Jonathan Andy

You Might Also LIke