Stay in The know

Glitz Journal

Merindukan Desainer Penguras Emosi

Merindukan Desainer Penguras Emosi

Tiga tipe presentasi di Jakarta Fashion Week.

Durasi baca: 1 menit 40 detik


Layaknya seorang musisi, pelukis, pematung, pembuat film hingga penulis puisi, maka bagi saya perancang busana atau desainer adalah seniman. Desainer membuat koleksi busana berdasarkan selera, mimpi, pengetahuan, bahkan inspirasi yang ia peroleh baik dari lingkungan hingga desainer lain. Perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) menjadi salah satu wadah tempat mereka bercerita dan memamerkan karya tersebut pada 10 tahun belakangan. Selama satu dekade itu pula, saya perhatikan ada 3 jenis presentasi yang bisa saya bagi menjadi karya sontekan, titipan sponsor, hingga karya idealis.


Karya sontekan

Dalam dunia musik, jika Anda membuat aransemen yang memiliki kesamaan dengan aransemen lain hingga 8 bar, maka musik Anda akan disebut sebagai plagiarisme. Namun bagaimana dengan dunia mode? Dalam bisnis retail hal ini sudah pernah—dan masih—menjadi pembicaraan hangat, termasuk karya seorang perancang mode. Ada beberapa nama desainer Indonesia yang pernah tersandung soal plagiarisme ini, meskipun tidak ada undang-undang khusus mengenai batasan sejauh mana sebuah karya busana dianggap menyontek. Perancang tersebut sempat ‘tiarap’ dalam berkarya, karena hukuman yang mereka terima bukan berasal dari media atau ranah hukum, melainkan cemooh dari para pemerhati mode di media sosial.


Titipan Sponsor

Tidak ada yang salah jika sebuah karya mendapat dukungan dari sebuah merek produk yang bisa membuat desain busananya semakin dikenal khalayak luas. Hal yang membuat karya tersebut kurang menarik adalah ketika pengaruh produk terlalu besar sehingga menggeser idealisme si perancang. Hasilnya? Karya yang mudah tertebak, tidak menggugah perasaan dan mudah terlupakan. Alangkah bijaksananya jika pihak yang berperan sebagai sponsor memberikan keleluasaan bagi si seniman untuk mengeksplorasi gagasan kampanye dengan caranya sendiri—tanpa meninggalkan kaidah yang mereka sepakati bersama. Pada pekan mode JFW 2017 dan JFW 2018 lalu, ada desainer dan sponsor yang berhasil berkolaborasi, ada pula yang tidak, sehingga apa yang tersaji kurang menggairahkan.


Karya Idealis

Saat sebuah peragaan busana tampil dengan konsep matang, musik yang mendukung dan koreografi yang terasa berkesinambungan dengan seluruh tema, maka karya busana tersebut akan meninggalkan kharisma yang meluapkan emosi Anda, seperti membuat bulu kuduk berdiri, tersenyum bahagia, bahkan menangis haru. Misalnya saja perancang asal Yogyakarta, Lulu Lutfi Labibi. Pria ini adalah seniman yang tahu akan kultur Jawa, gaya hidup dan sifat-sifat umum suku Jawa. Presentasinya selalu melibatkan alunan musik dari musisi lokal, seperti Frau. Musisi perempuan muda ini adalah pemusik idealis yang tidak peduli apakah karyanya menjual atau tidak, yang ia pikirkan adalah bermusik. Idealisme dan narasi Frau sesuai dengan apa yang ingin Lulu sampaikan terhadap karyanya—bahkan hasil fotonya di media sosial—hingga ‘idealisme’ pakaian milik Lulu meresap ke ‘emosi’ konsumennya. Sebuah satu kesatuan yang apik dan terasa sangat mandiri.

Hal yang sama juga terjadi pada seorang desainer perempuan, Putri J Ghariza. Label Aesthetic Pleasure miliknya begitu kental akan cita rasa punk-rock, sehingga pada akhir 2016, label muda ini menjadi salah satu primadona di ajang JFW 2017. Kekukuhan Popon—nama panggilannya—dalam menyampaikan idealisme dalam karyanya tercermin dari pengetahuannya yang dalam akan kultur punk-rock, tema dalam membuat kampanye, hingga bagaimana ia menjalani hidupnya. 

  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke