Stay in The know

Career & Money

Sebenarnya, Kapan Waktu yang Tepat untuk Pindah Kerja?

Sebenarnya, Kapan Waktu yang Tepat untuk Pindah Kerja?

Temukan jawabannya di sini.

Durasi baca: 1 menit 14 detik


Job-hopper adalah sebutan bagi para pekerja yang sering berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Dulu mungkin mereka sering mendapat citra negatif karena dianggap tidak bisa menjaga loyalitasnya pada perusahaan. Namun, apakah hal tersebut masih berlaku di dunia yang bergerak serba cepat?


Stigma tersebut nampaknya sudah mulai bergeser di era millennial saat ini. Pekerja masa kini cenderung memiliki keinginan untuk belajar, berkembang, dan terasah secara bekelanjutan dalam dunia karier. Jelas masih banyak yang tidak menyetujui hal ini terutama dari generasi yang lahir tahun akhir 1960-an hingga akhir 1970-an. Namun pada kenyataannya, lebih banyak keuntungan yang didapatkan para job-hoppers dibandingkan mereka yang bertahan terlalu lama di suatu perusahaan. Menurut para ahli, sebaiknya seseorang pindah kerja setiap 3 – 4 tahun sekali.


Dilansir dari Fastcompany.com, pekerja yang menetap lebih dari 2 tahun di perusahaan yang sama akan dibayar 50% lebih rendah ketimbang mereka yang pindah dalam waktu cepat. Bahkan, kurva kinerja para job-hoppers dinilai lebih tinggi karena adanya kecenderungan untuk memberikan kontribusi yang berdampak signifikan dalam waktu singkat. Mereka juga biasanya ingin memberikan kesan sebaik mungkin pada rekan kerja dan atasan dalam waktu cepat.


Patty McCord, Chief Talent Officer Netflix sekaligus orang yang bertanggung jawab untuk menghadirkan inovasi budaya kerja di perusahaan tersebut mengatakan bahwa berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan adalah hal yang baik. “Young people should plan to do so every three to four years,” ungkapnya dalam wawancara di Fastcompany.com Ia juga menambahkan bahwa seseorang yang pindah kerja dalam waktu singkat akan belajar lebih banyak dan mampu beradaptasi lebih cepat dibandingkan mereka yang bertahan di suatu perusahaan lebih dari 4 tahun. “They will build skills faster when changing companies because of the learning curve,” tambahnya.


McCord menjelaskan lebih jauh bahwa job-hoppers akan selalu menempatkan diri di luar zona nyaman. Ketika bergabung dalam sebuah peruasahaan, mereka harus belajar cepat, memberi kesan yang baik, dan memberi hasil. Semua itu harus mereka tuntaskan hanya dalam waktu 3 – 4 tahun sebelum pergi ke ‘petualangan’ berikutnya di perusahaan berbeda.


Penelope Trunk selaku founder dari Quistic.com dan seorang penulis, juga menyatakan bahwa kehidupan akan lebih stabil ketika seseorang pindah kerja secara berkala. Ia menambahkan, seseorang yang tidak berganti pekerjaan setiap 3 tahun akan semakin sulit untuk berganti pekerjaan. Hatinya akan semakin enggan tergerak dan perasaan ketergantungan dengan perusahaan akan membesar. “You (job-hoppers) will get a lot of skills in your 50, compared to people who don’t change their job frequently,” tutupnya.


(Shilla Dipo, foto: kaboompics.com)

You Might Also LIke