Stay in The know

Career & Money

Mengenal Macam-Macam Sifat Atasan Dalam Pekerjaan. Manakah Yang Tipe Ideal Anda?

Mengenal Macam-Macam Sifat Atasan Dalam Pekerjaan. Manakah Yang Tipe Ideal Anda?


Sebenarnya tidak ada standarisasi khusus yang menuliskan bagaimana seharusnya menjadi atasan (pemimpin perusahaan atau bos) yang sempurna itu. Sekalipun seorang atasan sudah lulus mengikuti training leadership, toh pada akhirnya seorang atasan hanyalah manusia biasa yang juga memiliki kelemahan.   

Memberikan julukan “atasan ideal” melibatkan sisi objektif dan subjektif—tergantung bagaimana cara kerja dan sifat dari anak buah itu sendiri. Atasan yang tepat waktu tentu tidak akan bisa bekerja dengan karyawan yang lambat dan sering telat atau atasan yang superdetail tidak akan cocok bekerja dengan karyawan tidak teliti dan teledor.

Sebagai anak buah, mau tak mau kita dihadapkan pada posisi yang harus lebih dulu menyesuaikan diri dengan atasan. Setelah itu (biasanya) predikat “atasan ideal” bisa Anda berikan ketika cara bekerja atasan dirasa cocok dengan kita—alias bisa ‘klik’. 

Nah, agar kinerja Anda tetap nyaman, produktif, dan meningkat, tak ada salahnya mengenal lebih dalam sifat, karakter, dan cara kerja atasan Anda. Kira-kira karakter mana yang dimiliki oleh atasan Anda saat ini? 


Atasan Bersahabat 


Siapa yang tak senang disapa dan ditegur atasan saat berpapasan. Rasanya mood bekerja jadi baik sepanjang hari—meskipun tugas menumpuk, hehehe. Umumnya tipe atasan ini digemari banyak karyawan. Ia tidak memberikan gap (jarak) dan cukup terbuka kepada anak buahnya.   

Positifnya: Tipe atasan ini merangkul dan mau mendengar masukan, sehingga lebih mudah mengomunikasikan masalah kepadanya. Anda pun tidak bekerja di bawah tekanan karena sikapnya yang tidak emosional.

Negatifnya: Beberapa atasan mungkin memang terlihat menyenangkan, tetapi saat bekerja mereka justru tak memiliki ketegasan dan bimbang. Akibatnya kebaikan atasan pun sering disalahgunakan oleh anak buah atau karyawannya. Di sisi lain, atasan tipe ini merupakan orang yang senang menunjukkan popularitasnya—pencitraan yang penting baik di mata anak buah.  

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Arogan 

Tipikal atasan ini seperti susah ‘tersentuh’. Jarak antara atasan dan bawahan begitu jelas. Ia enggan berkomunikasi dengan bawahan di level junior—kecuali benar-benar penting. Jangankan memberikan ide, tingkah lakunya saat rapat saja sudah membuat anak buah tegang duluan.

Positifnya: Bawahan menjadi tunduk kepada atasan khususnya untuk karyawan yang kurang bertanggung jawab. Anda pun dituntut well-prepared menyelesaikan pekerjaan dan tugas. 

Negatifnya: Atasan tipe ini biasanya enggan menerima masukan, kritik, dan saran—lebih karena gengsi. Di satu sisi kreativitas Anda pun terbatas dan terasa sulit berkomunikasi ketika menemukan masalah.    

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Nge-Bossy dan Diktator


Tipe atasan ini cenderung lebih mengutamakan hasil kerja (juga keuntungan) dan mengabaikan proses kerja. Karena itu, saat bekerja atasan tipe ini dirasa terlalu menuntut bawahannya. Semakin menyebalkan saat tugas yang diberikan tidak sesuai job desc Anda—atau terkesan suka-suka dia saja. Atasan yang mendadak mendapatkan posisi tanpa memiliki jam terbang tinggi juga berpotensi berada di tipe ini.  

Positifnya: Tidak ada sisi positifnya kecuali Anda dilatih untuk lebih bersabar. 

Negatifnya: Atasan selalu menjadi bahan gosip dan keluhan anak buah. Munculnya ketakutan dan tekanan besar selama bekerja. Turn-over karyawan pada perusahaan pun menjadi tinggi dan jauh dari kesan profesional.

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Perfeksionis

Atasan perfeksionis biasanya sudah memiliki standar kerjanya sendiri. Tak heran mereka akan menuntut anak buahnya bekerja sesuai dengan cara dan hasil kerja yang ia diinginkan. Atasan tipe ini juga sangat detail dan tepat waktu. Ketika Anda melewati jalur, bersiaplah untuk menerima teguran darinya. 

Positifnya: Anda akan terbiasa bekerja sesuai SOP, lebih teratur, dispilin, dan teliti. Manajemen waktu Anda pun lebih baik. Jika Anda bisa mengikuti aturannya, dipastikan pekerjaan Anda akan minim dari kesalahan.

Negatifnya: Aturan yang tidak fleksibel membuat anak buah yang tidak bisa menyesuaikan diri akan bekerja di bawah tekanan. Anda pun harus sering lembur atau mengulang pekerjaan ketika hasil tak sesuai dengan harapannya.

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Cuek 


Nada bicara tidak pernah tinggi, jarang mengeluarkan keluhan, dan cenderung mirip dengan tipe atasan bersahabat. Tipe seperti umumnya dilakukan oleh atasan pria. Beberapa keputusan tak jarang bisa Anda ambil sendiri tanpa harus mendiskusikan dulu kepadanya. Intinya, selama pekerjaan beres, tak ada alasan lain untuk menegur dan menahan Anda pulang. 

Positifnya: Atasan tipe ini jauh dari drama di kantor. Dia tak memedulikan cara kerja anak buah selama pekerjaan yang diberikan terselesaikan dengan baik. Di sisi lain Anda pun jadi lebih mandiri menghadapi masalah.

Negatifnya: Jika ini bukanlah bisnis utama atasan Anda—alias dia punya side job—sebaiknya berhati-hati pada masa depan perusahaan. Jangan kaget kalau di meeting, ia sering sibukkan dengan bermain gadget (smartphone) sendiri. Masalah yang timbul di perusahaan pun jadi tak ada ujung penyelesaian. Karyawan pun biasanya tak termotivasi dan cenderung bekerja sesuai dengan kemauan masing-masing.

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Minim Kompetensi 

Ternyata tidak semua atasan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan karyawannya. Atasan seperti ini biasanya mengandalkan anak buahnya untuk mencari ide—termasuk eksekusinya. Tak jarang Anda pun dijadikan ‘bemper’ ketika ada masalah. 

Positifnya: Anda dapat membangun networking lebih luas saat turun langsung ke lapangan dan membuka peluang ‘menjual diri’ kepada klien potensial.  

Negatifnya: Ketergantungan bisa menimbulkan rasa merendahkan dari anak buah kepada atasannya. Karyawan—khususnya di level junior—tidak akan lebih pintar jika bekerja dengan tipe atasan ini. Bahayanya, karakter seperti ini juga bisa memicu atasan menjadi politikus di kantor—seperti mencuri ide atau mengatasnamakan ide orang lain sebagai idenya sebagai jalan pintas untuk bersinar. 

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Turun ke Lapangan


Kebalikan dengan atasan cuek atau nge-bossy, tipe ini justru memperlihatkan dengan jelas etos kerja seorang pemimpin. Atasan tipe ini menomersatukan proses dan cara kerja untuk menghasilkan pekerjaan yang maksimal. Jangan heran kalau atasan tiba-tiba menghampiri anak buahnya satu per satu untuk melakukan pengecekkan. 

Positifnya: Masalah yang timbul bisa terselesaikan secara menyeluruh karena atasan mengerti proses. Lingkungan pekerjaan pun lebih kondusif dan terhindar politik atau drama di dalam perusahaan.

Negatifnya: Atasan menuntut Anda untuk hadir lebih dulu dan pulang paling akhir saat melakukan pengecekkan di lapangan. Tak jarang, atasan tipe ini selalu ingin tahu—alias kepo—akan urusan anak buahnya. 

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Tegas Berwibawa

Berbeda dengan arogan, atasan tipe ini (untungnya) masih bisa diajak berkomunikasi dan bertukar pikiran. Hanya saja ia tidak akan mengajak Anda pada diskusi bertele-tele—langsung fokus menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan. Emosi yang dikeluarkan juga beralasan, ketika Anda melakukan kesalahn atau tidak bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Intinya, karyawan respect kepadanya—bukan takut atau justru berpura-pura baik.

Positifnya: Anda bisa belajar banyak dari atasan model ini, karena biasanya ia memiliki solusi dari setiap masalah yang ada. Anda pun dibiasakan untuk bekerja mandiri untuk menyelesaikan masalah tanpa membuat masalah baru.

Negatifnya: Saat atasan emosional atau marah bisa jadi kritikan pedas akan Anda terima. Di sisi lain, atasan seperti cenderung ambisius sehingga doyan lembur kantor. Hal ini bisa menular pula kepada Anda sebagai anak buahnya. 

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.


Atasan Tebar Pesona


Statusnya selalu berganti-ganti di Path, foto terbarunya pun terunggah cepat di Instagram. Ya, atasan tipe ini memang senang bersosialisasi. Selama tidak berlebihan, aksi atasan seperti ini tidak lah menjadi masalah. Menjadi bahaya kalau atasan menggunakan sosial media sebagai ajang curhat masalah pekerjaan—mengkritik manajemen perusahaan atau menjelekkan anak buah—yang justru memberikan kesan tidak profesional. 

Positifnya: Atasan seperti ini mengajarkan karyawannya untuk menjaring networking lebih luas termasuk membuka mata akan perkembangan zaman dari semua bidang. Anda pun dituntut lebih update dan bisa menyesuaikan diri.

Negatifnya: Kesan negatif akan timbul pada atasan yang gemar memberikan statement miring. Jika terkoneksi dengan sosial medianya, Anda pun jadi berhati-hati dalam bersikap di dunia maya. Atasan tipe ini juga tak bisa dilepas dari smartphone-nya, sekalipun saat meeting penting.

Bagaimana menyesuaikan diri dengan tipe atasan seperti ini? Baca infonya DI SINI.

(Saskia Damanik/Elizabeth Puspa, Image: Corbis)

You Might Also LIke