Stay in The know

Intermezzo

Bocah Berusia 11 Tahun Ini Berhasil Melampaui IQ Albert Einstein

Bocah Berusia 11 Tahun Ini Berhasil Melampaui IQ Albert Einstein

Kian Hamer yang memiliki skor IQ 162 ini pun berhasil bergabung bersama Mensa. 

Albert Einstein, tentu nama tersebut tak lagi asing di telinga Anda, bukan? Ia adalah seorang ilmuan asal Jerman, pemegang IQ tertinggi, sekaligus penemu rumus terkenal  E= mc², yang kini dipakai sebagai rumus relativitas di pelajaran fisika. Hingga saat ini, sosok yang berhasil menyaingi IQ sang legenda hanyalah Prof. Stephen Hawking dengan meraih IQ sama dengan Einstein, yaitu 160.

Namun, baru-baru ini seorang anak asal Coventry, West Midlands, Inggris, berhasil memecahkan rekor melampaui kedua ilmuan tersebut, Bocah yang bernama Kian Hamer ini memang baru menginjak usia 11 tahun, namun ia sudah berhasil mencatat skor 162 di tes IQ kategori Cattell III B. Soal pada kategori tersebut berisikan 150 pertanyaan yang tergolong sangat rumit dan butuh konsentrasi tinggi. Biasanya, orang dewasa hanya berhasil menduduki nilai sekitar 100 – 140. Itu pun jarang sekali terjadi. 

Berkat kecerdasannya, Kian pun berhasil diajak bergabung bersama anggota Mensa—organisasi non-profit yang beranggotakan orang-orang jenius dengan IQ superior dari berbagai negara. “I feel proud to have achieved such a good score and I'm really excited to be joining Mensa. I always work my hardest in everything I do and I'm always up for a challenge,” ujar Kian saat berbagi kisahnya.


Hebatnya, anak dari seorang pemadam kebakaran ini tak pernah pantang menyerah dalam urusan studi. Ia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membanggakan kedua orangtuanya yang telah susah payah mencarikan uang demi pendidikannya. “He's always done incredibly well at school. He works really hard and always tries his best. We always knew he was bright but never in our wildest dreams would we have thought about putting him in for a Mensa test. So, credit to the school,” ungkap sang ayah.

Tak hanya itu, sebagai ayah, Rich Hamer sengaja mendidik anaknya menjadi sosok yang mandiri, rendah hati, dan tidak boleh besar kepala. “He's clever but I'm not calling him a genius. I want him to keep his feet on the ground. He's competitive but he's not big-headed and he's very down to earth. He's very matter-of-fact,” tambah Rich.

Uniknya, Kian yang merupakan anggota baru dan termuda Mensa ini mengaku tidak bercita-cita untuk menjadi ilmuwan layaknya Einstein. Ia memilih untuk bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional. “I still want to be a professional footballer when I'm older though. I love playing football,” ungkap Kian. 

Sang ayah pun tak pernah memaksakan apa impian dari sang anak, meskipun kelak ia tidak dapat menjadi sorang ilmuan dan memilih lapangan hijau sebagai tempat meniti karier. “A lot of people have joked that he's too clever to be a footballer. I am very proud of what he has achieved. I think he is pretty chuffed too,” tutup sang ayah.

(Elizabeth Puspa, Image: Berbagai sumber)

You Might Also LIke